Di beberapa masjid masih ditemukan susunan loudspeaker yang secara akustik cukup problematis: speaker di depan diarahkan ke belakang, sementara speaker di bagian belakang diarahkan kembali ke depan. Sekilas terlihat logis karena suara dianggap dapat mengisi ruangan dari dua arah. Padahal, ketika keduanya membawa sinyal yang sama, persoalannya bukan hanya pemerataan suara. Ada masalah interferensi gelombang sekaligus persepsi arah pendengaran.
Dua loudspeaker tidak otomatis saling membatalkan hanya karena berhadapan. Yang menentukan adalah perbedaan waktu tiba dan fase pada posisi pendengar. Kecepatan suara di udara sekitar 343 m/s; artinya selisih lintasan 1 meter menghasilkan perbedaan waktu sekitar 2,9 milidetik. Ketika dua sinyal identik tiba dengan waktu berbeda, pada frekuensi tertentu keduanya in phase sehingga saling menguatkan, sementara pada frekuensi lainnya menjadi out of phase sehingga saling melemahkan. Inilah yang menghasilkan comb filtering: respons frekuensi membentuk deretan peak dan null, sehingga karakter suara dapat berubah hanya karena jamaah berpindah posisi beberapa meter. Biamp menjelaskan fenomena yang sama pada dua loudspeaker yang mereproduksi sinyal mono dengan perbedaan jarak terhadap pendengar.
Tetapi persoalannya tidak berhenti pada frekuensi.
Manusia tidak hanya mendengar apa yang berbunyi, tetapi juga secara otomatis memperkirakan dari mana suara itu berasal. Sistem auditorik menggunakan perbedaan waktu kedatangan suara pada kedua telinga atau Interaural Time Difference (ITD), perbedaan level atau Interaural Level Difference (ILD), serta petunjuk spektral yang dibentuk oleh kepala dan daun telinga. Kemampuan ini bahkan sangat sensitif; dalam kondisi tertentu manusia dapat mendeteksi perbedaan waktu antartelinga dalam orde puluhan mikrodetik.
Karena itu, ketika imam berada di depan tetapi loudspeaker di belakang jamaah justru lebih dominan atau lebih dahulu terdengar, terjadi ketidakselarasan antara posisi visual, posisi fisik, dan citra auditori. Jamaah melihat dan mengetahui imam berada di depan, tetapi sistem pendengarannya memperoleh petunjuk kuat bahwa sumber suara berada di belakang.
Di sinilah dikenal precedence effect atau Haas effect. Jika dua sumber mereproduksi sinyal yang sama dengan selisih waktu tertentu, persepsi lokasi cenderung mengikuti sumber yang tiba lebih dahulu. Prinsip ini justru dimanfaatkan dalam desain sound reinforcement profesional: loudspeaker tambahan atau delay speaker di bagian belakang diatur waktunya agar membantu level dan coverage tanpa membuat pendengar merasa sumber utama berpindah ke speaker tersebut. JBL menjelaskan bahwa delay digunakan agar pendengar tetap melokalisasi suara pada sistem utama, bukan pada loudspeaker pengisi yang posisinya lebih dekat.
Yamaha juga menjelaskan bahwa pada sistem dengan banyak loudspeaker, tanpa pengaturan delay, pendengar dapat merasa suara orang yang berbicara justru berasal dari loudspeaker terdekat. Delay digunakan untuk mengoreksi lokalisasi tersebut sekaligus membantu mengurangi persoalan interferensi.
Itulah sebabnya speaker belakang di masjid seharusnya diperlakukan sebagai delay/fill speaker, bukan sebagai sumber kedua yang menembak balik dan “melawan” speaker depan. Arah cakupan, level, jarak, serta delay-nya harus dihitung agar suara utama tetap memiliki orientasi ke depan.
Sound system masjid yang baik bukan hanya membuat suara imam terdengar keras, merata, dan jelas. Ia juga harus membuat otak jamaah tetap mempersepsikan bahwa suara itu berasal dari arah yang semestinya.
Jamaah menghadap kiblat. Imam berada di depan. Maka sound system pun semestinya membantu “menghadapkan pendengaran ke kiblat”, bukan membuat telinga merasa imam berada di belakang.


