Ada kebiasaan yang cukup sering terjadi ketika masjid ingin memperbaiki sound system. Pengurus mengumpulkan uang, bertanya kepada toko atau teknisi terdekat, lalu mulai membeli mikrofon, mixer, amplifier dan speaker.

Setelah semua barang datang, barulah muncul pertanyaan: “Speaker ini sebaiknya dipasang di mana?”

Kalau pertanyaan tentang penempatan speaker baru muncul setelah barang dibeli, sebenarnya prosesnya sudah terbalik sejak awal. Sound system masjid seharusnya tidak dimulai dari belanja perangkat, tetapi dari membaca kebutuhan ruang.

Di sebuah masjid kecil, misalnya, para remaja masjid menabung untuk membeli sound system. Karena di dekat masjid ada teknisi organ tunggal, urusan tersebut dipercayakan kepadanya. Dibelilah speaker 15 inci.

Masalah mulai muncul ketika speaker hendak dipasang. Ukurannya cukup besar untuk ruangan tersebut dan tidak tersedia titik pemasangan yang memadai. Akhirnya speaker digantung menggunakan bracket AC. Mudah-mudahan bracket-nya kuat, karena kalau jatuh ketika jamaah sedang sujud, urusannya bukan lagi intelligibility, tetapi bisa langsung masuk buku Yasin.

Kabel speakernya pun menggunakan kabel bening dengan penampang sangat kecil. Setelah sistem dinyalakan, suara terasa kurang jelas. Volume dinaikkan, tetapi suara malah mulai pecah dan distorsi. Berkali-kali dilakukan setting selama beberapa hari, hasilnya tetap tidak memuaskan.

Padahal di masjid itu sebenarnya terdapat speaker column kecil yang tidak digunakan. Setelah beberapa perangkat yang tidak diperlukan dilepas dan column tersebut dipasang kembali, suara justru terdengar lebih jelas.

Apakah berarti speaker 15 inci jelek? Tentu tidak. Speaker 15 inci bisa sangat baik pada aplikasi yang tepat. Persoalannya adalah apakah karakter speaker, pola penyebaran, kemampuan SPL, posisi pemasangan dan respons frekuensinya sesuai dengan ruang serta fungsi yang hendak dilayani.

Masjid kecil yang sebagian besar menggunakan sound system untuk bacaan imam, khutbah, azan dan pengumuman tidak otomatis membutuhkan speaker besar. Untuk aplikasi seperti ini, yang dicari bukan sebanyak mungkin bass atau sekadar suara keras, melainkan speech intelligibility: ucapan terdengar jelas, nyaman dan merata.

Di ruang tertentu, sebuah speaker column yang tepat dan ditempatkan dengan benar dapat bekerja lebih sesuai dibanding speaker berukuran besar yang dipasang tanpa perhitungan. Jadi, jangan pula menarik kesimpulan bahwa speaker kecil selalu lebih baik daripada speaker 15 inci. Yang benar, speaker harus dipilih berdasarkan kebutuhan sistem, bukan ukuran fisiknya.

Kisah serupa terjadi di sebuah pondok pesantren. Pengelola ingin meningkatkan kualitas sound system ruang pengajian yang cukup besar. Ketika teknisi datang, ternyata perangkat sudah lebih dahulu dibeli: beberapa unit speaker TOA, sementara amplifier yang tersedia merupakan amplifier rakitan berdaya terbatas.

Teknisi kemudian menjelaskan bahwa konfigurasi amplifier dan speaker tersebut perlu dihitung kembali. Jawaban pengelola kira-kira sederhana: selama ini amplifier seperti itu juga digunakan untuk TOA, mengapa sekarang tidak bisa?

Di sinilah persoalan yang sering muncul. Barang sudah telanjur dibeli, kemudian teknisi diminta memasang dan sekaligus menjamin hasil akhirnya. Kalau suaranya tidak bagus, teknisi yang disalahkan. Padahal sejak awal ia tidak terlibat dalam menentukan perangkat.

Sound System Bukan Sekumpulan Barang

Enam speaker yang bagus tidak otomatis menjadi sound system yang bagus. Mixer mahal, amplifier besar dan mikrofon bermerek juga tidak otomatis menghasilkan suara masjid yang jelas.

Sound system merupakan satu kesatuan sistem elektroakustik. Mikrofon, mixer, amplifier, speaker, kabel, posisi pemasangan, karakter ruangan dan setting harus bekerja sebagai sebuah sistem.

Sebelum membeli perangkat, setidaknya perlu diketahui ukuran dan bentuk ruangan, posisi imam dan mimbar, karakter pantulan ruang, jarak speaker terhadap jamaah, tingkat kebisingan latar, pola penyebaran speaker, kebutuhan SPL, impedansi sistem, kebutuhan daya amplifier, ukuran kabel, risiko feedback, serta fungsi masing-masing mikrofon.

Dari data itulah kemudian ditentukan jenis speaker, jumlahnya, posisi pemasangan, amplifier, mixer dan perangkat pendukungnya.

Urutan yang lebih sehat adalah:

Survei → Desain → Spesifikasi → Pengadaan → Instalasi → Setting → Pengujian.

Bukan membeli perangkat terlebih dahulu, kemudian memaksa semuanya bekerja di ruangan yang ternyata tidak cocok.

Kesalahan urutan seperti inilah yang sering berakhir dengan tambah speaker, ganti amplifier, beli mixer baru, pasang alat anti-feedback, lalu akhirnya sebagian barang hanya menjadi penghuni gudang masjid.

Teknisi Hajatan Belum Tentu Memahami Sound Masjid

Ini bukan soal merendahkan keahlian siapa pun. Teknisi organ tunggal dapat sangat ahli menangani panggung. Teknisi kafe memahami reproduksi musik. Teknisi studio mempunyai disiplin kerja sendiri. Namun sound masjid memiliki kebutuhan yang berbeda.

Pada pertunjukan musik, sistem harus mampu mereproduksi kick drum, bass, keyboard dan vokal dengan rentang frekuensi serta SPL tertentu. Di masjid, informasi utama yang harus sampai kepada jamaah justru ucapan manusia: bacaan imam, khutbah, azan, pengajian dan pengumuman.

Tantangan masjid juga khas. Banyak ruang masjid memiliki lantai, dinding, kaca, plafond atau kubah yang sangat reflektif. Bila sistem hanya dibuat semakin keras untuk melawan kondisi tersebut, energi pantulan ikut meningkat. Suara memang bertambah keras, tetapi kata-kata dapat semakin sulit dipahami.

Karena itu, menangani sound masjid bukan sekadar mengetahui cara menyambungkan mixer ke amplifier kemudian amplifier ke speaker. Ada persoalan akustik ruang, elektroakustik dan psikoakustik yang harus dipertimbangkan.

Setting Tidak Bisa Memperbaiki Semua Kesalahan Desain

Masalah berikutnya muncul ketika seluruh perangkat sudah dibeli, baru kemudian orang yang dianggap ahli dipanggil.

Permintaannya sering sederhana: “Pokoknya alat yang sudah ada ini dibuat bagus.”

Padahal tidak selalu bisa.

Equalizer tidak dapat memperbaiki speaker yang salah penempatan. Mixer digital tidak dapat menggantikan amplifier yang salah spesifikasi. Feedback suppressor tidak menyelesaikan reverberasi ruangan. Menambah volume juga tidak otomatis meningkatkan kejelasan suara.

Dalam beberapa kasus, tindakan yang paling benar justru memindahkan, mengurangi, mengganti, bahkan tidak menggunakan sebagian perangkat yang sudah dibeli.

Karena itu, orang yang bertanggung jawab atas hasil teknis semestinya dilibatkan sejak tahap perencanaan. Tidak adil meminta konsultan atau teknisi mempertanggungjawabkan performa sistem apabila spesifikasi perangkat sejak awal ditentukan oleh pihak lain tanpa perhitungan teknis.

Uang Masjid adalah Amanah

Persoalan ini menjadi lebih penting karena sumber dananya sering berasal dari kotak amal, infak jamaah, sumbangan warga, bahkan tabungan remaja masjid.

Mereka mengumpulkannya dengan harapan azan terdengar baik, bacaan imam semakin jelas dan jamaah lebih nyaman. Sangat disayangkan jika dana tersebut akhirnya berubah menjadi tumpukan speaker, amplifier atau mixer yang tidak terpakai hanya karena proses pengadaannya dimulai dari belanja, bukan perencanaan.

Kalau DKM memang tidak memahami sound system, tidak perlu memaksakan diri memilih perangkat sendiri. Pengurus tetap berhak menentukan anggaran, kebutuhan operasional dan prioritas. Namun persoalan seperti tipe speaker, daya amplifier, pola coverage, impedansi, jenis mikrofon, kabel dan konfigurasi sistem sebaiknya diserahkan kepada orang yang benar-benar memahami sound system masjid.

Sebab masjid tidak membutuhkan speaker sebesar mungkin, amplifier sekuat mungkin atau mixer secanggih mungkin.

Masjid membutuhkan sistem yang tepat.

Kadang perangkatnya sederhana dan speakernya tidak besar. Tetapi ketika dirancang, ditempatkan dan disetel dengan benar, suara imam sampai kepada jamaah dengan jelas, nyaman dan merata.

Itu jauh lebih berharga daripada sound system yang terlihat gagah, tetapi setiap kali dinyalakan pengurus kembali memutar knob sambil bertanya:

“Ini kurang apalagi, ya?”