Saya menemukan gambar simulasi penempatan loudspeaker masjid yang dibagikan dalam sebuah grup tata suara.
Secara prinsip, konfigurasi seperti ini mungkin cukup berhasil meratakan distribusi energi suara ke seluruh area jamaah. Namun, perlu diingat bahwa masjid berbeda dengan ruang konser, kafe, atau ruang pertemuan biasa.
Ada satu fungsi penting tata suara masjid yang sering terlupakan, yaitu MENGHADAPKAN PENDENGARAN KE KIBLAT.
Artinya, ketika jamaah menghadap kiblat, suara imam idealnya juga dipersepsikan datang dari arah kiblat.
Pada simulasi tersebut, loudspeaker ditempatkan di depan serta sepanjang dinding kiri dan kanan. Akibatnya, sebagian jamaah berpotensi mendengar suara lebih dominan dari samping, bukan dari depan. Sementara jamaah di area tengah dapat mengalami ketidakjelasan orientasi suara akibat kedatangan suara dari beberapa arah.
Memang, persoalan ini dapat dipengaruhi oleh pengaturan level, delay, pengarahan loudspeaker, dan kondisi akustik ruangan. Namun, semua itu harus dirancang untuk mempertahankan persepsi arah suara dari depan.
Inilah sebabnya pemerataan SPL saja tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan tata suara masjid.
Tata suara masjid bukan hanya soal seberapa merata dan jelas suara terdengar, tetapi juga dari arah mana suara itu dipersepsikan datang.
Jamaah menghadap kiblat, pendengaran pun semestinya tetap menghadap kiblat.
Salam, Kang Eep


