Saya beberapa kali memesan produk dari produsen audio lokal, mencoba hasilnya, melihat proses produksinya, dan cukup sering berdiskusi dengan pelaku usaha maupun kawan-kawan di bidang UKM APAVMI, Asosiasi Penggiat Peralatan Audio Video Musik Indonesia. Saya melihat sendiri bahwa kemampuan teknis produsen kita sebenarnya cukup baik. Amplifier bisa dibuat, loudspeaker bisa dirancang, mixer dan berbagai perangkat audio lain pun sudah banyak yang mampu mengerjakannya dengan hasil yang layak, malah tidak kalah dengan produk branded buatan luar negeri.
Pertanyaannya tinggal satu: kalau sudah bisa membuat produk, apakah berarti sudah siap menjadi industri?
Menurut saya, belum selalu. Ada beberapa persoalan yang cukup sering saya temui.
1. Bisa membuat 100 unit, belum tentu siap membuat 1.000 unit
Produksi kecil relatif mudah diawasi. Pemilik masih bisa ikut memilih bahan, memantau pekerjaan, bahkan memeriksa produk satu per satu. Situasinya berubah ketika order naik berkali-kali lipat. Bahan baku harus tersedia lebih banyak, pekerja bertambah, mesin bekerja lebih lama, jadwal produksi makin padat, dan kontrol menjadi lebih sulit.
Jadi persoalannya bukan hanya sanggup membuat barang lebih banyak. Yang harus ikut membesar adalah kapasitas produksinya, orangnya, pasokannya, pengawasannya, dan sistem kerjanya.
2. Produk bagus sekali belum cukup, harus bagus berkali-kali
Saya juga beberapa kali menemukan hasil produksi yang bagus pada batch pertama, tetapi tidak sama pada batch berikutnya. Ada pula produk yang bagus ketika dibuat 100 unit, lalu mutunya berubah ketika jumlahnya naik menjadi 1.000 unit.
Kualitas tidak boleh bergantung pada siapa yang sedang bekerja atau seberapa sering pemilik turun tangan. Bahan harus terstandardisasi, proses harus tercatat, SOP harus jelas, alat ukur harus memadai, dan quality control harus benar-benar berjalan.
Bagi saya, industri bukan hanya mampu membuat satu produk yang bagus, tetapi mampu membuat produk yang sama bagusnya berulang kali dalam jumlah besar.
3. Order ramai belum tentu keuangan sehat
Saya pernah memberikan DP untuk sebuah pesanan. Belakangan saya tahu sebagian dana itu dipakai lebih dahulu untuk menyelesaikan pesanan pelanggan sebelumnya.
Memindahkan penggunaan kas antarpekerjaan mungkin saja terjadi. Yang berbahaya adalah ketika itu menjadi pola: order B dipakai menyelesaikan order A, lalu order C dibutuhkan untuk membiayai order B. Selama pesanan baru terus masuk, semuanya terlihat baik-baik saja. Begitu order melambat, masalah cash flow mulai kelihatan.
Usaha yang tumbuh membutuhkan modal kerja yang cukup, perhitungan HPP yang benar, proyeksi arus kas, dan disiplin keuangan.
4. Setelah barang terjual, urusan belum selesai
Perangkat audio dipakai bertahun-tahun. Suatu saat amplifier bisa rusak, speaker perlu penggantian komponen, atau pengguna membutuhkan bantuan teknis. Maka kualitas sebuah merek tidak hanya dinilai ketika barang baru keluar dari kardus.
Garansi harus jelas, spare part tersedia, teknisi siap, prosedur servis tertata, dan keluhan pelanggan ditangani dengan baik. Kadang justru di saat produk bermasalah, kepercayaan terhadap sebuah merek benar-benar diuji.
Empat hal ini membuat saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: kemampuan membuat produk sering tumbuh lebih cepat daripada kemampuan membangun sistem perusahaannya.
Produksi bertambah, sistem produksinya harus ikut matang. Volume naik, kontrol mutu harus semakin kuat. Omzet membesar, pengelolaan keuangan harus semakin tertib. Produk makin banyak beredar, layanan purna jual juga harus semakin siap.
Naik kelas bagi produsen audio lokal akhirnya bukan cuma soal omzet, jumlah karyawan, atau ukuran pabrik. Ukurannya adalah mampu memproduksi lebih banyak tanpa kehilangan kualitas, memiliki keuangan yang sehat, dan tetap bertanggung jawab terhadap produk setelah sampai ke tangan konsumen.
Salam,
Kang Eep


