Indonesia memiliki jumlah masjid dan musala yang sangat besar. Data SIMAS Kementerian Agama mencatat lebih dari 𝟳𝟭𝟬 𝗿𝗶𝗯𝘂 𝗺𝗮𝘀𝗷𝗶𝗱 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝘂𝘀𝗮𝗹𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗿𝗱𝗮𝗳𝘁𝗮𝗿, sementara Dewan Masjid Indonesia memperkirakan jumlah sebenarnya, termasuk yang belum terdata, 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗸𝗮𝘁𝗶 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗷𝘂𝘁𝗮.
Masjid adalah ruang ibadah yang sebagian besar aktivitasnya sangat bergantung pada 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝗮𝗻. Menurut Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla, sekitar 𝟴𝟬% 𝗸𝗲𝗴𝗶𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗺𝗮𝘀𝗷𝗶𝗱 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻: bacaan imam dalam salat berjamaah, azan dan iqamah, khutbah Jumat, ceramah, pengajian, pembacaan Al-Qur’an, doa, pengumuman, serta berbagai kegiatan pendidikan dan dakwah.
Artinya, 𝘁𝗮𝘁𝗮 𝘀𝘂𝗮𝗿𝗮 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗳𝗮𝘀𝗶𝗹𝗶𝘁𝗮𝘀 𝘁𝗮𝗺𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗺𝗮𝘀𝗷𝗶𝗱. Ia merupakan salah satu infrastruktur utama dalam menyampaikan ibadah, syiar, dan dakwah kepada jamaah.
Namun, menurut Jusuf Kalla, sekitar 𝟳𝟱% 𝗺𝗮𝘀𝗷𝗶𝗱 𝗱𝗶 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗸𝘂𝗮𝗹𝗶𝘁𝗮𝘀 𝘀𝗼𝘂𝗻𝗱 𝘀𝘆𝘀𝘁𝗲𝗺 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝘂𝗿𝘂𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗹𝘂 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝗯𝗮𝗶𝗸𝗶. Persoalannya bukan semata-mata suara kurang keras atau kurang enak didengar. Suara bisa terdengar keras, tetapi apabila 𝗮𝗿𝘁𝗶𝗸𝘂𝗹𝗮𝘀𝗶 𝘂𝗰𝗮𝗽𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗱𝗶𝗽𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗶𝗸, maka fungsi utama tata suara belum tercapai.
Dalam sistem tata suara masjid, 𝘀𝗽𝗲𝗲𝗰𝗵 𝗶𝗻𝘁𝗲𝗹𝗹𝗶𝗴𝗶𝗯𝗶𝗹𝗶𝘁𝘆 atau kejelasan ucapan merupakan parameter utama. Jamaah harus dapat menangkap informasi dengan jelas, pada tingkat suara yang cukup, merata, dan nyaman.
Kualitas tersebut terutama ditentukan oleh empat faktor: 𝗮𝗸𝘂𝘀𝘁𝗶𝗸 𝗿𝘂𝗮𝗻𝗴, 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗮𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻, 𝗽𝗲𝗻𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗹𝗼𝘂𝗱𝘀𝗽𝗲𝗮𝗸𝗲𝗿, serta 𝘀𝗲𝘁𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝘂𝗻𝗶𝗻𝗴 𝘀𝗶𝘀𝘁𝗲𝗺.
Akustik yang buruk tidak dapat diselesaikan hanya dengan menaikkan volume. Loudspeaker yang mahal tidak otomatis menghasilkan suara yang baik apabila penempatan dan arahnya keliru. Demikian pula perangkat yang baik dapat memberikan hasil buruk apabila sistem tidak dirancang dan diatur dengan benar.
Karena itu, memperbaiki tata suara masjid bukan sekadar 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗻𝘁𝗶 𝘀𝗽𝗲𝗮𝗸𝗲𝗿 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗹𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 𝗯𝗮𝗿𝘂. Yang dibutuhkan adalah penataan sistem secara menyeluruh, mulai dari akustik ruang, desain sistem, pemilihan dan penempatan perangkat, hingga setting, tuning, dan pengoperasiannya.
𝗧𝘂𝗷𝘂𝗮𝗻 𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿𝗻𝘆𝗮 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗺𝗮𝘀𝗷𝗶𝗱 𝘁𝗲𝗿𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗸𝗲𝗿𝗮𝘀, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗮𝘁 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝗽𝗲𝘀𝗮𝗻 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵, 𝘀𝘆𝗶𝗮𝗿, 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗸𝘄𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗿𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿 𝗷𝗲𝗹𝗮𝘀 𝘀𝗲𝗿𝘁𝗮 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗱𝗶𝗽𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗷𝗮𝗺𝗮𝗮𝗵.
Salam, Kang Eep – Alumni Fisika ITB 91
Konsultan Akustik & Sound Masjid
Berpengalaman 35 tahun di Bidang Audio & Video
0813-3010-3010


