Sistem tata suara masjid harus memastikan ucapan imam, khatib, dan penceramah dapat dipahami jamaah di seluruh area salat. Kerasnya suara saja tidak menjamin hasil tersebut. Energi suara harus cukup dan tersebar relatif merata. Pada masjid besar, kebutuhan ini sering sulit terpenuhi apabila loudspeaker hanya dipasang di dinding kiri dan kanan, sementara ruang salat membentang luas dan jarak pendengar terhadap sumber suara sangat bervariasi. Arah pancaran yang tidak tepat juga menyebabkan sebagian energi suara mengenai dinding atau kubah, bukan area jamaah yang seharusnya dilayani.
Persoalan Distribusi Energi Suara
Ketidakmerataan tingkat tekanan suara (Sound Pressure Level/SPL) dapat menyebabkan jamaah di dekat loudspeaker menerima suara sangat kuat, sementara di bagian lain muncul area dengan cakupan lemah atau coverage gap. Pada ruang dengan waktu dengung tinggi, suara langsung juga dapat kalah dominan dibandingkan suara pantulan. Akibatnya, ucapan terdengar tetapi suku kata dan konsonannya sulit dibedakan. Menaikkan volume amplifier belum tentu menyelesaikan masalah karena energi pantulan ikut meningkat.
Geometri ruang, jarak pendengar, pola pengarahan loudspeaker (directivity), kondisi akustik, dan kebisingan latar harus diperhitungkan dalam perancangan. Distribusi SPL perlu dijaga dalam batas yang wajar, disertai kejelasan ucapan yang dapat dievaluasi melalui Speech Transmission Index (STI). Pada ruangan tertentu, pendekatan yang lebih efektif adalah mendekatkan sumber suara kepada jamaah dengan membagi sistem ke beberapa zona pendengaran.
Dua Cara Menempatkan Loudspeaker
1. Menggantung loudspeaker pada posisi yang diperhitungkan.
Penggantungan memungkinkan loudspeaker ditempatkan pada ketinggian dan sudut pengarahan yang sesuai dengan kebutuhan cakupan suara. Masjid Salman ITB, Bandung, merupakan salah satu contoh penerapannya. Posisi gantung harus mempertimbangkan pola cakupan, kekuatan struktur, keamanan perangkat, jalur kabel, serta akses pemeliharaan. Penempatannya tidak boleh semata-mata mengikuti titik yang paling mudah digunakan.
2. Mendistribusikan loudspeaker melalui tiang atau elemen arsitektur.
Tiang atau struktur yang menyatu dengan interior menjadi alternatif ketika penggantungan sulit dilakukan. Sumber suara dapat ditempatkan lebih dekat dengan jamaah, sehingga tidak seluruh area harus dilayani dari jarak jauh. Setiap titik memerlukan pengaturan arah, level, dan waktu tunda (delay alignment) apabila diperlukan. Posisi tiang juga harus memperhatikan sirkulasi, pandangan jamaah, serta keselamatan. Penambahan jumlah loudspeaker tanpa perancangan yang benar justru berpotensi menimbulkan interferensi.
Penerapan di Beberapa Masjid
Masjid Raya Al Jabbar di Bandung menggunakan elemen menyerupai pilar yang berkaitan dengan penempatan perangkat tata suara sekaligus distribusi udara. Di Masjid Negara IKN, loudspeaker juga disebarkan ke sejumlah titik untuk melayani ruang salat.
Pendekatan serupa saya terapkan di Masjid Tazkia, Sentul City, Bogor, dengan memasang loudspeaker pada tiang khusus yang bagian bawahnya sekaligus berfungsi sebagai rak Al-Qur’an. Perangkat dapat ditempatkan pada titik yang diperlukan dan tetap menyatu dengan rancangan interior masjid.
Arsitek dan Pengelola Masjid Tidak Boleh Mengesampingkan Akustik dan Tata Suara
Arsitek, perancang interior, dan pengelola masjid memiliki tanggung jawab memastikan keindahan bangunan berjalan seiring dengan kualitas akustik dan tata suaranya. Aktivitas ibadah di masjid sangat bergantung pada komunikasi melalui suara. Kebutuhan tersebut harus menjadi bagian dari pertimbangan desain sejak awal.
Masjid boleh memiliki kubah megah, arsitektur monumental, dan interior mewah. Namun, apabila khutbah, bacaan imam, dan ceramah sulit dipahami, keindahan tersebut tidak akan menghilangkan keluhan dan kritik jamaah terhadap kualitas tata suaranya. Pengabaian aspek akustik sejak tahap perancangan juga berisiko menimbulkan biaya perbaikan yang jauh lebih besar ketika bangunan sudah selesai.
Keterlibatan konsultan akustik dan perancang tata suara sejak tahap desain sangat diperlukan. Simulasi akustik dan elektroakustik dapat membantu menentukan pengendalian dengung, kebutuhan distribusi loudspeaker, cakupan SPL, serta prediksi STI sebelum keputusan desain ditetapkan.
Utamakan Fungsi, Integrasikan dengan Arsitektur
Pertimbangan estetika tidak semestinya menjadi alasan untuk melarang pemasangan loudspeaker gantung atau penempatan sumber suara di tengah ruang apabila secara teknis memang diperlukan.
Posisi loudspeaker harus ditentukan berdasarkan kebutuhan distribusi suara, kemudian diintegrasikan secara aman dan pantas dengan arsitektur bangunan.
Pada akhirnya, kualitas tata suara masjid ditentukan oleh kemampuan jamaah memahami setiap ucapan dengan jelas dan nyaman di seluruh area yang dilayani.
Salam, Kang Eep – Alumni Fisika ITB
Konsultan Akustik & Sound Masjid
Pengalaman 35 tahun di Bidang Audio Visual


