Suatu ketika, saya melakukan setting dan tuning sound system di sebuah masjid pesantren. Setelah seluruh perangkat diatur, salah seorang pihak pesantren menyampaikan ketidakpuasannya. Menurutnya, suara imam yang terdengar melalui sound system masih berbeda dengan suara asli sang imam. Ia berharap suara yang keluar dari loudspeaker benar-benar sama dengan suara imam ketika berbicara secara langsung.

Keinginan tersebut tentu wajar. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Suara yang sampai ke telinga jamaah bukan semata-mata suara dari loudspeaker, melainkan hasil interaksi antara sumber suara, sistem tata suara, dan kondisi akustik ruangan.

Suara imam di dalam masjid hampir tidak mungkin 100 persen identik dengan suara aslinya. Namun, suara tersebut dapat dibuat sangat mendekati aslinya apabila kondisi akustik ruangan dikendalikan dengan baik, sebagaimana prinsip yang diterapkan pada studio rekaman.

Suara Mengalami Perubahan dalam Perjalanannya

Ketika imam berbicara atau melantunkan ayat Al-Qur’an, suaranya merambat melalui udara. Sebagian sampai langsung ke telinga jamaah, sementara sebagian lainnya mengenai dinding, lantai, plafon, tiang, dan berbagai permukaan ruangan.

Suara tersebut dapat dipantulkan, diserap, atau dihamburkan. Akibatnya, telinga kita menerima gabungan suara langsung, pantulan awal, dan pantulan berulang yang membentuk dengung.

Contoh sederhana adalah ketika kita berbicara di kamar mandi. Suara sering terdengar lebih nyaring, berongga, dan bergema dibandingkan ketika berbicara di halaman terbuka. Padahal, sumber suaranya tetap sama. Perbedaannya terletak pada kondisi akustik lingkungan.

Ruangan Ikut Membentuk Karakter Suara

Setiap ruangan mempunyai karakter akustik berbeda. Ukuran ruangan, bentuk plafon, geometri dinding, serta jenis material menentukan bagaimana energi suara dipantulkan dan diserap.

Beton, kaca, marmer, dan keramik umumnya memantulkan banyak energi suara. Sementara itu, material penyerap akustik dapat mengurangi pantulan pada rentang frekuensi tertentu.

Bentuk kubah atau permukaan cekung dapat memusatkan pantulan, sedangkan ruangan besar dengan permukaan reflektif berpotensi menghasilkan dengung panjang.

Setiap frekuensi juga tidak selalu mengalami perlakuan yang sama. Frekuensi rendah mungkin bertahan lebih lama daripada frekuensi tinggi sehingga suara imam terdengar lebih berat, tebal, berongga, atau kehilangan detail pengucapan.

Selain itu, perbedaan waktu kedatangan suara langsung dan pantulan dapat menimbulkan interferensi yang mengubah keseimbangan frekuensi. Perubahan warna suara semacam ini dikenal sebagai coloration.

Namun, tidak semua pantulan merugikan. Pantulan awal yang terkendali justru dapat membantu memperkuat suara dan meningkatkan kejelasan ucapan.

Mengapa Studio Rekaman Menggunakan Ruangan Khusus?

Pernahkah kita memperhatikan mengapa penyanyi dan pengisi suara melakukan rekaman di ruangan khusus yang dilengkapi berbagai material akustik?

Tujuannya agar mikrofon menangkap suara sedekat mungkin dengan karakter aslinya, tanpa terlalu banyak dipengaruhi pantulan, resonansi, dan dengung ruangan.

Studio rekaman dirancang untuk mengendalikan faktor-faktor tersebut sehingga suara yang ditangkap mikrofon lebih bersih, alami, dan akurat.

Prinsip yang sama dapat diterapkan pada masjid. Apabila menghendaki suara imam terdengar sangat mendekati aslinya, ruang masjid harus diperlakukan sebagaimana ruang studio rekaman dalam hal pengendalian akustik.

Artinya, pantulan dan dengung yang mengubah karakter vokal perlu dikendalikan melalui penataan material, bentuk permukaan, dan waktu dengung. Bukan berarti masjid harus dibuat sama persis dengan studio, melainkan menerapkan prinsip pengendalian akustik yang sama.

Sampai di Mana Kemampuan Sound System?

Perubahan karakter suara akibat mikrofon, mixer, amplifier, dan loudspeaker dalam batas tertentu dapat dikompensasi melalui pengaturan elektronik, terutama equalizer (EQ), pemilihan perangkat, serta setting dan tuning yang tepat.

Namun, kemampuan tersebut mempunyai batas. Ketika sebuah masjid memiliki waktu dengung terlalu panjang, EQ tidak dapat menghilangkannya. EQ hanya mengubah keseimbangan frekuensi, bukan menghentikan pantulan berulang di dalam ruangan.

Demikian pula, pengaturan elektronik tidak sepenuhnya mampu mengatasi pantulan yang terfokus akibat bentuk ruangan.

Karena itu, secanggih apa pun sound system yang digunakan, setting dan tuning tidak dapat menggantikan penataan akustik ruangan.

Bisakah Suara Imam Mendekati Suara Aslinya?

Jawabannya, sangat bisa, sepanjang kondisi akustik masjid ditata untuk mendukung reproduksi suara yang alami.

Caranya melalui pengendalian pantulan, resonansi, dan waktu dengung, kemudian didukung perangkat yang akurat, penempatan loudspeaker yang benar, serta setting dan tuning sesuai kondisi ruangan.

Namun, masjid tidak harus dibuat sekering studio rekaman. Masjid memiliki karakter audial tersendiri. Dengung yang terkendali dapat memberikan kesan luas, hidup, dan khidmat ketika imam melantunkan ayat Al-Qur’an, selama tidak mengorbankan kejelasan bacaan.

Pengalaman di pesantren tersebut mengingatkan bahwa perbedaan suara imam tidak selalu disebabkan kualitas perangkat atau kesalahan teknisi. Kondisi akustik ruangan juga mempunyai andil besar terhadap suara yang didengar jamaah.

Jika menghendaki suara imam mendekati aslinya, jangan hanya membenahi sound system. Benahi pula akustik ruangannya, sebagaimana industri rekaman memperlakukan ruang studio untuk menjaga keaslian suara.

Sebab, kualitas suara yang diterima jamaah bukan hanya ditentukan oleh apa yang keluar dari loudspeaker, tetapi juga oleh bagaimana ruangan memperlakukan suara tersebut sebelum sampai ke telinga.

Salam,
Kang Eep