Idulfitri kemarin, saya melaksanakan salat Id bersama anak saya di sebuah masjid—kita sebut saja Masjid Haji Mum*n—dekat Pasar Kadungora. Sejak awal, anak saya yang baru duduk di kelas 2 SD sudah mengingatkan bahwa suara di masjid tersebut jelek.

“Mati sebelah,” ujarnya. 😃

Memang, kualitas tata suara masjid yang berukuran kurang lebih 8 × 8 meter tersebut sangat buruk. Suaranya tidak jelas, ditambah efek echo yang berlebihan. Terbukti, ketika muraqi berbicara tanpa mikrofon, suaranya justru terdengar jauh lebih jelas.

Mikrofon yang digunakan berkualitas rendah dan tidak dilengkapi busa windshield. Akibatnya, ketika khatib berbicara, tiupan dari bibirnya terdengar meletup-letup. Kondisinya semakin parah karena efek echo yang berlebihan. Penempatan loudspeaker juga kurang tepat. Alhasil, kami benar-benar tidak dapat memahami apa yang disampaikan oleh khatib.

Kejadian lucunya, khotbah sang khatib juga panjang sekali, hampir 40 menit. Anak saya akhirnya keluar sendiri sebelum khotbah selesai. Bapak-bapak di sebelah saya mulai berbisik-bisik dan mengobrol.

Salah seorang bapak berkata kepada saya:

“Geus mah sora sound teu jelas ngomong naon, jaba lila deui.”

Sudah suara sound system-nya tidak jelas, tidak tahu apa yang dibicarakan, lama pula.

Tentu saja, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan masjid maupun pengurusnya. Persoalan sound system hampir merata ditemukan di banyak masjid. Pak Jusuf Kalla pernah menyampaikan bahwa 75 persen masjid di Indonesia memiliki kualitas tata suara yang sangat buruk.

Persoalan tata suara masjid merupakan tanggung jawab bersama. Setidaknya terdapat tiga kendala utama:

  1. Kurangnya sumber daya manusia yang memahami penggunaan dan penataan sound system.
  2. Banyak masjid memiliki anggaran yang sangat terbatas untuk menyediakan sistem tata suara yang berkualitas.
  3. Masih ada pengurus masjid yang menganggap sound system kurang penting dan cukup disediakan seadanya, padahal bangunan masjidnya sendiri dibangun dengan biaya miliaran rupiah.

Tata suara masjid tidak dapat dianggap sepele. Kepentingannya bahkan dapat melebihi keindahan bangunan masjid itu sendiri karena pada dasarnya masjid adalah tempat untuk mendengarkan, bukan sekadar menikmati keindahan arsitektur.

Diperlukan edukasi yang berkesinambungan agar semakin banyak umat Islam memahami pentingnya sound system masjid yang baik dan benar. Jangan hanya mampu mengeluh ketika suaranya buruk, tetapi mari ikut bergotong royong menyisihkan rezeki untuk membantu penyediaan dan perawatan tata suara masjid.

Salam,
Kang Eep
Konsultan Akustik & Sound Masjid