Pekan lalu saya diminta datang ke sebuah masjid di ibu kota salah satu provinsi. Masjid itu baru diresmikan pada September 2025. Secara visual, bangunannya megah dan indah, cukup untuk membuat siapa pun berdecak kagum. Namun sejak hari pertama dipakai, masjid ini justru menuai keluhan dari hampir semua pihak. Jamaah mengeluh, pengurus kebingungan, pejabat yang meresmikan pun kecewa, bahkan malu.
Masalahnya bukan pada niat ibadah, melainkan pada satu hal yang seharusnya paling mendasar, suara tidak bisa dipahami. Apa yang diucapkan imam, khatib, atau penceramah terdengar, tetapi tidak jelas. Ada suara, tapi tanpa makna. Hasil pengujian akustik membenarkan keluhan itu, parameter akustik ruang ini sangat buruk, jauh dari standar ruang ujar, apalagi ruang ibadah yang bertumpu pada komunikasi lisan.
Ironisnya, masjid ini dirancang oleh konsultan arsitek yang namanya sudah sangat dikenal, bahkan kerap dipuji karena desain masjid-masjidnya yang ikonik. Bentuknya unik, fotogenik, dan tampak menawan di brosur maupun media sosial. Sayangnya, keindahan itu berhenti di mata. Begitu adzan berkumandang dan khutbah dimulai, arsitektur yang memesona itu berubah menjadi ruang gema yang membingungkan.
Saya menulis ini bukan berdasarkan satu kasus. Dalam beberapa tahun terakhir, saya sudah diminta menangani sejumlah masjid karya konsultan yang sama, dan hasilnya konsisten, 100 persen bermasalah secara akustik. Hampir semuanya memiliki waktu dengung berlebihan, pantulan tak terkendali, dan distribusi suara yang kacau. Kondisi ini diperparah oleh sistem tata suara yang dipasang sekadarnya, pemilihan perangkat tidak tepat, penempatan loudspeaker serampangan, dan penyetelan yang tampak lebih didasarkan pada coba-coba daripada perhitungan.
Di titik ini, sulit menolak kesan bahwa akustik masih dianggap urusan belakangan, atau lebih parah lagi, urusan teknisi setelah bangunan selesai. Padahal ketika masjid sudah berdiri megah, persoalan akustik sering kali nyaris mustahil diselesaikan dengan layak. Membongkar struktur mahal, menambah panel harus memikirkan beban bangunan, belum lagi keterbatasan ruang karena lampu gantung, ornamen, dan elemen estetika lain yang sudah terlanjur dipasang. Akhirnya, solusi yang diambil pun setengah hati, sekadar agar terdengar lebih keras, bukan lebih jelas.
Sudah saatnya rekan-rekan arsitek berhenti memosisikan akustik sebagai pelengkap, lalu mulai membicarakannya sebagai bagian integral dari desain sejak awal. Masjid bukan galeri seni, bukan pula sekadar objek visual. Masjid adalah ruang ujar, ruang percakapan, ruang penyampaian makna. Dalam konteks itu, kejelasan suara bukan fitur tambahan, melainkan inti fungsi bangunan.
Mungkin sudah waktunya pula para arsitek sedikit menurunkan ego visualnya. Keindahan rupa yang mengorbankan kejelasan makna pada akhirnya adalah kegagalan fungsi. Masjid yang indah tapi tidak bisa berbicara dengan jelas kepada jamaahnya, sejatinya sedang mengkhianati tujuan dasarnya sendiri.
Masjidnya artistik, sayang suaranya burik, akibat meremehkan akustik.
Salam, Kang Eep, Fisika ITB
Tukang Sound Masjid
0813-3010-3010


