Dalam banyak instalasi sound system masjid, imam kadang meminta agar suaranya diberi reverb atau delay. Alasannya sederhana: tanpa efek, suara terasa kering, berat, bahkan dalam istilah Sunda terasa eungap ketika membaca. Permintaan seperti ini sering langsung diterjemahkan sebagai kebutuhan efek suara. Padahal secara teknis, persoalannya bisa berada di tempat yang berbeda: imam tidak memperoleh monitoring yang cukup terhadap suaranya sendiri.
Ketika membaca salat, imam perlu mendapatkan umpan balik audial bahwa suaranya sudah keluar dengan baik melalui sistem tata suara. Masalahnya, banyak masjid hanya memasang loudspeaker utama yang diarahkan kepada jamaah, tanpa menyediakan speaker monitor khusus untuk imam. Akibatnya, imam lebih banyak mendengar suara langsung dari mulutnya sendiri, kemudian beberapa saat kemudian menerima suara dari loudspeaker utama dan pantulan ruangan.
Kondisi ini dapat membuat imam merasa suaranya kurang lantang atau kurang “keluar”. Secara refleks ia kemudian meningkatkan tenaga vokal, membaca lebih keras, dan menekan suara lebih kuat. Setelah beberapa waktu, membaca terasa berat dan melelahkan. Sensasi inilah yang kemudian sering diterjemahkan sebagai kebutuhan reverb.
Ketika reverb ditambahkan, imam memang dapat merasa lebih nyaman. Suaranya terdengar lebih besar, panjang, dan memenuhi ruang. Namun kenyamanan tersebut belum tentu berarti kualitas suara yang diterima jamaah menjadi lebih baik. Masjid pada umumnya sudah mempunyai reverberasi alami dari lantai, dinding, kubah, kaca, dan permukaan keras lainnya. Menambahkan electronic reverb ke ruang yang sudah reverberant justru dapat memperpanjang peluruhan suara dan menurunkan intelligibility atau kejelasan bacaan.
Delay atau echo lebih berisiko lagi. Pengulangan suara dapat bertabrakan dengan suku kata berikutnya sehingga artikulasi menjadi kabur. Dalam bacaan salat, ketika kejelasan lafaz sangat penting, penggunaan efek seperti ini seharusnya dilakukan dengan sangat hati-hati.
Solusi yang lebih tepat adalah menyediakan speaker monitor khusus imam. Monitor tidak perlu keras. Fungsinya hanya memberikan direct sound yang cukup agar imam dapat mendengar bahwa suaranya sudah masuk dan diperkuat oleh sistem. Dengan self-monitoring yang baik, imam tidak perlu memaksakan tenaga vokal hanya untuk mendapatkan sensasi bahwa suaranya sudah lantang.
Jadi ketika imam mengatakan suaranya terasa eungap tanpa reverb, jangan buru-buru menambah efek. Periksa terlebih dahulu sistem monitoringnya. Bisa jadi yang dibutuhkan bukan suara yang dibuat lebih panjang, melainkan suara sendiri yang dapat didengar dengan lebih jelas.
Reverb adalah efek. Monitor adalah kebutuhan kerja. Keduanya jangan sampai tertukar.


