Sebagai seorang arsitek, saya membaca surat terbuka ini dengan perasaan campur aduk: tersentak, tersadar, sekaligus merasa perlu bercermin. Tulisan ini bukan sekadar keluhan teknis, melainkan kritik mendasar terhadap cara kami—para arsitek—memahami fungsi sebuah masjid.

Saya harus jujur mengakui, apa yang disampaikan Kang Eep bukanlah cerita tunggal. Dalam praktik arsitektur, khususnya pada proyek masjid berskala besar dan ikonik, akustik memang terlalu sering ditempatkan sebagai urusan nomor dua, bahkan kadang menjadi urusan terakhir. Fokus kami kerap terjebak pada bentuk, simbol, dan ekspresi visual, sementara hakikat masjid sebagai ruang ujar justru terpinggirkan.

Masjid bukan galeri seni. Ia bukan sekadar objek untuk dipotret, dipamerkan, atau dibanggakan dalam portofolio. Masjid adalah ruang penyampaian makna: tempat ayat dibaca, khutbah disampaikan, dan ilmu ditransmisikan secara lisan. Jika suara imam dan khatib terdengar, tetapi tidak dapat dipahami, maka ada kegagalan serius dalam memenuhi fungsi dasar masjid itu sendiri.

Sebagai arsitek, kami tidak bisa terus bersembunyi di balik dalih bahwa persoalan suara adalah urusan teknisi sound system. Sistem tata suara hanya dapat bekerja optimal jika ruangnya benar. Ketika proporsi ruang, geometri plafon, dan pemilihan material sejak awal mengabaikan akustik, maka speaker terbaik sekalipun hanya akan memperkeras gema dan kebingungan.

Tulisan ini juga menampar ego visual kami. Keindahan arsitektur yang mengorbankan kejelasan makna bukanlah keunggulan desain, melainkan kompromi yang salah arah. Arsitektur yang baik seharusnya melayani penggunanya, bukan memaksa pengguna menyesuaikan diri dengan ambisi bentuk perancangnya.

Saya sepakat, sudah saatnya akustik dibicarakan sejak tahap konsep, sejajar dengan struktur dan utilitas. Kolaborasi dengan ahli akustik bukan tanda kelemahan arsitek, melainkan tanda kedewasaan profesi. Menurunkan ego visual bukan berarti menurunkan kualitas desain. Justru sebaliknya, itu adalah upaya mengembalikan arsitektur pada fungsi dan tanggung jawab sosialnya.

Bagi saya pribadi, surat terbuka ini bukan serangan, melainkan pengingat. Bahwa masjid yang baik bukan hanya indah dipandang, tetapi juga jernih didengar. Dan arsitek yang bertanggung jawab adalah mereka yang bersedia dikritik demi perbaikan ruang ibadah umat.

Masjidnya boleh artistik, tetapi suaranya tidak boleh burik.

Jika itu terjadi, maka kami harus berani mengakui: ada yang perlu kami benahi dari cara kami merancang.

Hatur nuhun, Kang Eep.

Dwi Wahyu Wamenarno
Arsitek