Salah satu pemandangan menarik dari sistem tata suara Masjidil Haram adalah mikrofon imam. Dalam berbagai dokumentasi populer, konfigurasi ini sering disebut terdiri dari sembilan mikrofon: tiga untuk posisi berdiri, tiga untuk rukuk, dan tiga untuk sujud.

Bagi banyak orang, pemandangan itu mudah menimbulkan kekaguman. Masjidil Haram adalah pusat ibadah umat Islam sedunia. Suara imamnya didengar jutaan jemaah dan disiarkan ke berbagai negara. Maka ketika orang melihat banyak mikrofon di depan imam, kesimpulan yang muncul sering terlalu sederhana: kalau ingin suara sebagus Masjidil Haram, pasanglah mikrofon sebanyak itu.

Padahal dalam dunia audio, tidak semua yang tampak hebat boleh ditiru mentah-mentah.

Sembilan mikrofon di Masjidil Haram bukan dipasang karena satu mikrofon kurang mampu menangkap suara. Bukan pula karena makin banyak mikrofon berarti suara makin jernih. Logika utamanya adalah keandalan sistem, cakupan posisi imam, dan antisipasi kegagalan.

Dalam salat, posisi imam berubah. Saat berdiri, mulut imam berada pada ketinggian tertentu. Saat rukuk, posisi kepala turun dan menghadap lebih rendah. Saat sujud, posisi mulut berpindah lagi, jauh lebih dekat ke lantai. Jika hanya mengandalkan satu mikrofon untuk semua posisi, level suara bisa berubah drastis. Saat berdiri terdengar jelas, saat rukuk melemah, saat sujud bisa hilang atau terdengar tidak natural.

Saya sendiri belum memahami, dan belum menemukan informasi resmi, mengapa sistem seperti ini tidak menggunakan mikrofon headworn. Padahal secara teknis, mikrofon headworn jauh lebih ideal karena posisinya relatif dekat, tetap on-axis terhadap mulut, dan ikut bergerak mengikuti gerakan imam.

Namun pembagian mikrofon berdasarkan posisi imam tetap masuk akal secara teknis. Posisi berdiri, rukuk, dan sujud memiliki titik tangkap suara yang berbeda. Dengan menempatkan mikrofon pada titik-titik tersebut, suara imam dapat ditangkap pada jarak dan sudut yang lebih sesuai.

Hal penting yang sering luput dipahami: mikrofon sebanyak itu bukan berarti semuanya harus dicampur bersamaan dengan level yang sama.

Pada sistem sebesar Masjidil Haram, mikrofon bukan hanya alat tangkap suara, tetapi juga bagian dari sistem keandalan. Ada mikrofon yang bekerja sebagai titik tangkap utama sesuai posisi imam, ada pula yang disiapkan sebagai cadangan jika terjadi gangguan. Logikanya bukan “semua harus aktif”, melainkan “suara imam tidak boleh hilang”.

Konsep seperti ini disebut redundansi.

Logika yang sama terlihat pada podium para pemimpin dunia. Di podium Presiden Amerika Serikat, misalnya, sering terlihat dua mikrofon Shure SM57 terpasang berdampingan. Barack Obama, Joe Biden, dan banyak presiden Amerika lainnya tampil dengan konfigurasi mikrofon ganda seperti itu. Bukan karena dua mikrofon harus dicampur bersamaan agar suara lebih bagus, melainkan karena sistem pidato resmi membutuhkan keandalan. Satu jalur bisa menjadi utama, jalur lain menjadi cadangan atau digunakan untuk kebutuhan distribusi berbeda, seperti tata suara ruangan dan feed media.

Kesalahpahaman sering terjadi ketika masjid-masjid di Indonesia meniru tampilan luarnya saja. Melihat Masjidil Haram memakai banyak mikrofon, lalu dipasanglah banyak mikrofon di depan imam. Kadang tiga, lima, bahkan sembilan. Tujuannya ingin terlihat seperti Masjidil Haram. Ingin terlihat profesional. Ingin suara imam tertangkap dari segala arah.

Hasilnya sering kali justru berlawanan.

Semua mikrofon dibuka bersamaan. Semua channel dinaikkan. Semua dianggap aktif. Logikanya sederhana: semakin banyak mikrofon, semakin banyak suara tertangkap, maka hasilnya semakin bagus.

Dalam audio, logika itu keliru.

Jika dua atau lebih mikrofon menangkap sumber suara yang sama dari jarak berbeda, lalu sinyalnya dicampur bersamaan, suara yang masuk ke mixer tidak tiba pada waktu yang persis sama. Ada yang lebih cepat, ada yang sedikit terlambat. Selisihnya mungkin hanya beberapa milidetik, tetapi cukup untuk merusak karakter suara.

Gejala ini disebut comb filtering.

Comb filtering terjadi ketika satu suara bercampur dengan salinan dirinya sendiri yang datang sedikit terlambat. Sebagian frekuensi saling menguatkan, sebagian lain saling membatalkan. Efeknya bisa terdengar sebagai suara yang tipis, kopong, hidung, tidak natural, atau seperti memiliki warna aneh. Kadang suara imam tidak hilang, tetapi kejelasannya menurun.

Risiko lain adalah feedback. Semakin banyak mikrofon dibuka, semakin besar peluang sistem menangkap kembali suara dari speaker, pantulan ruangan, langkah, napas, dan noise sekitar. Mixer akhirnya menerima terlalu banyak sinyal yang tidak diperlukan.

Persoalannya bukan jumlah mikrofon, melainkan cara mikrofon itu dipakai.

Satu mikrofon yang ditempatkan dengan benar, diarahkan dengan tepat, diberi gain secukupnya, dan masuk ke sistem yang tertata, sering kali lebih baik daripada sembilan mikrofon yang semuanya dibuka tanpa perhitungan.

Masjidil Haram tidak menjadi rujukan karena mikrofon imamnya banyak. Masjidil Harram itu menjadi rujukan karena dibangun dengan logika teknis yang disiplin.

Masjid di Indonesia boleh belajar dari Masjidil Haram. Bahkan seharusnya belajar. Tetapi yang ditiru jangan hanya bentuk luarnya.

Jangan hanya meniru sembilan mikrofonnya.

Tirulah cara berpikirnya.

Salam, Kang Eep – Alumni Fisika ITB
Konsultan Akustik & Sound System Masjid
0813-3010-3010