Penataan akustik, sama halnya dengan penataan sound system, tidak dapat dilakukan secara asal-asalan apabila menginginkan hasil yang baik. Pemasangan material akustik bukan sekadar menempelkan bahan lunak pada dinding atau plafon, lalu menganggap persoalan pantulan suara selesai. Setiap material memiliki karakter yang berbeda. Ada bahan yang lebih efektif menyerap frekuensi tinggi, ada yang membantu mengendalikan frekuensi menengah, dan ada pula yang dirancang untuk memecah atau menyebarkan pantulan suara.

Karena itu, pada ruangan yang sudah selesai dibangun, sebaiknya dilakukan pengukuran parameter akustik terlebih dahulu. Dari pengukuran tersebut dapat diketahui kondisi waktu dengung, kejelasan suara, respons frekuensi ruangan, serta area yang mengalami pantulan berlebihan. Dengan data itu, dapat ditentukan jenis material, ketebalan, luas, dan lokasi pemasangan yang benar. Tanpa pengukuran, pemasangan material akustik hanya menjadi pekerjaan coba-coba yang belum tentu menyelesaikan masalah.

Pemilihan material akustik untuk tempat umum, apalagi masjid, juga tidak boleh hanya mempertimbangkan kemampuan penyerapannya. Bahan, warna, bentuk, pola, ketahanan, kemudahan perawatan, dan kesesuaiannya dengan arsitektur ruangan harus ikut diperhitungkan. Panel berbentuk kotak-kotak seperti papan catur mungkin berfungsi secara akustik, tetapi belum tentu sesuai dengan karakter interior masjid. Menggunakan bekas tempat telur juga terlalu berlebihan. Mungkin ada sedikit pengaruh terhadap pantulan frekuensi tertentu, tetapi dari sisi estetika, kebersihan, ketahanan, dan kepantasan untuk ruang ibadah tentu sulit dibenarkan.

Inilah yang sering membuat arsitek dan desainer interior bersitegang dengan orang yang memasang material akustik secara sembarangan. Pihak arsitek ingin menjaga keindahan ruang, sementara pihak teknis hanya berfokus pada fungsi penyerapan suara. Padahal keduanya tidak perlu dipertentangkan. Material akustik dapat dirancang menjadi bagian dari interior, misalnya menggunakan panel berlapis kain dengan warna yang menyatu, pola geometris yang selaras, bilah kayu, panel berlubang, atau bentuk dekoratif yang tetap memiliki fungsi teknis.

Penataan akustik yang baik harus mempertemukan ilmu fisika, teknik, arsitektur, dan estetika. Ruangan tidak hanya harus nyaman didengar, tetapi juga tetap indah dipandang. Jangan sampai persoalan gaung selesai, tetapi wajah interior masjid menjadi rusak. Sebaliknya, jangan pula hanya mengejar keindahan visual, sementara suara imam dan khatib tidak dapat dipahami dengan jelas.

Akustik dan estetika dapat berjalan bersama untuk mewujudkan masjid yang indah dipandang mata, nyaman digunakan, serta nikmat didengar oleh telinga.