Instalatur sound system masjid itu rupa-rupa kelakuannya. Ada instalatur yang bekerja dengan hati-hati, terukur, dan mengikuti teori tata suara yang sudah dikenal. Kalaupun berkreasi, biasanya hanya pada bagian-bagian minor, seperti setting, pemilihan sudut, penempatan loudspeaker, atau penyesuaian sistem dengan kondisi ruangan. Instalatur jenis ini cenderung memilih peralatan yang sudah teruji, bukan semata-mata karena ingin menggunakan barang mahal atau bermerek, tetapi karena sadar bahwa dana umat harus dapat dipertanggungjawabkan.
Perangkat yang dipasang harus memiliki kualitas yang jelas, ketersediaan suku cadang, teknisi yang dapat dihubungi, garansi, dokumentasi, dan layanan purnajual yang terjamin. Ia memahami bahwa pekerjaan instalasi tidak selesai pada saat sistem berbunyi dan pembayaran diterima. Sound system masjid harus tetap dapat digunakan bertahun-tahun kemudian. Kalau terjadi masalah, harus ada orang yang dapat dimintai bantuan. Kalau ada perangkat yang rusak, harus ada jalur perbaikan yang jelas.
Namun, ada pula instalatur yang masuk ke dalam kategori “rock and roll”. Pekerjaannya di setiap masjid hampir tidak pernah sama, bukan karena setiap masjid memang membutuhkan desain yang berbeda, tetapi karena setiap proyek dijadikan arena eksperimen baru. Masjid terkadang berubah menjadi tempat aktualisasi diri instalatur. Berbagai teori, istilah teknis, dan perhitungan yang rumit dikedepankan. Takmir dibuat membelalakkan mata, antara kagum dan sebenarnya tidak memahami apa yang sedang dijelaskan.
Istilah teknis tentu penting dan perhitungan juga diperlukan. Namun, ilmu tata suara seharusnya dipakai untuk menyelesaikan persoalan masjid, bukan untuk membuat orang lain merasa bodoh. Instalatur yang baik harus mampu menjelaskan persoalan teknis dalam bahasa yang dapat dipahami takmir. Jangan sampai semakin rumit istilah yang digunakan, semakin kabur pula hubungan antara teori, desain, perangkat, dan hasil suara yang akan diterima jemaah.
Instalatur jenis “rock and roll” ini juga sering menghindari perangkat yang sudah teruji. Ia lebih senang menggunakan barang murah, perangkat kanibalan dari sistem lama, produk yang tidak jelas asal-usulnya, barang KW, bahkan komponen bekas dari perangkat lain. Speaker bekas televisi pun kadang dipasang, selama masih bisa mengeluarkan suara. Prinsipnya sederhana: sedapat mungkin dibuat semurah mungkin. Alasannya pun terdengar mulia, masjid tidak perlu menggunakan perangkat bagus, sayang dana umat.
Namun, penghematan belum tentu sama dengan efisiensi. Barang murah yang cepat rusak, sulit diperbaiki, tidak memiliki suku cadang, dan akhirnya harus dibeli ulang justru dapat membuat biaya jangka panjang menjadi lebih mahal. Dana umat bukan hanya harus dihemat, tetapi juga harus dibelanjakan dengan tepat. Perangkat yang mahal belum tentu tepat, tetapi perangkat yang murah juga belum tentu hemat. Yang harus dinilai adalah kesesuaian fungsi, kualitas, umur pakai, keandalan, kemudahan perawatan, dan dukungan setelah instalasi.
Sayangnya, layanan purnajual sering tidak terlalu dipikirkan. Setelah sistem berbunyi, pekerjaan dianggap selesai. Ketika beberapa bulan kemudian muncul noise, feedback, channel mati, baterai bermasalah, atau loudspeaker tidak merata, takmir bingung harus menghubungi siapa. Pada saat yang sama, ada pula instalatur yang gemar melecehkan instalatur lain karena menggunakan mixer digital, digital loudspeaker management system atau DLMS, amplifier yang lebih baik, maupun perangkat bermerek. Seolah-olah menggunakan perangkat yang lebih proper selalu berarti pemborosan.
Padahal, mixer digital, DLMS, equalizer, delay, limiter, dan berbagai perangkat pemrosesan bukan dipasang untuk gaya-gayaan. Perangkat tersebut dapat digunakan untuk mengatur gain, membatasi level, membagi jalur indoor dan outdoor, mengatur delay antarloudspeaker, mengendalikan feedback, dan menjaga sistem agar lebih aman serta konsisten. Tentu saja alat yang canggih tidak otomatis menghasilkan suara yang bagus. Semuanya tetap bergantung pada desain, instalasi, setting, dan kemampuan orang yang mengoperasikannya. Namun, meremehkan perangkat hanya karena kita tidak menggunakannya juga bukan sikap profesional.
Sebenarnya, penggunaan alat nonbranded, rakitan, modifikasi, atau perangkat bekas sah-sah saja. Tidak ada larangan untuk berkreasi. Bahkan, dalam kondisi tertentu, kreativitas dapat menghasilkan solusi yang efektif dan ekonomis. Syaratnya jelas: suara masjid harus tetap terjaga kejelasannya, energi suara cukup merata, sistem tidak mudah feedback, instalasi aman, perangkat dapat dirawat, dan kalau terjadi masalah, instalatur tetap hadir serta bertanggung jawab.
Kalau semua syarat itu terpenuhi, tidak ada persoalan. Namun, tidak perlu melecehkan atau nyinyir kepada masjid lain yang memang memiliki anggaran untuk menggunakan peralatan yang lebih proper. Setiap masjid memiliki kemampuan, kebutuhan, ukuran ruangan, tingkat kompleksitas, dan standar pelayanan yang berbeda. Masjid kecil di kampung tentu tidak harus menggunakan sistem seperti masjid raya. Namun, masjid besar yang menampung ribuan jemaah juga tidak dapat dipaksa menggunakan sistem seadanya hanya karena instalaturnya memiliki ideologi “yang penting murah”.
Kalau memang tidak suka dengan perangkat masjid yang bermerek dan mahal, mengapa tidak sekalian mencoba nyinyir kepada pengelola Masjidil Haram? Tentu saja perbandingannya tidak sama. Namun, logikanya sederhana. Perangkat digunakan sesuai kebutuhan, tingkat risiko, luas area, jumlah pengguna, dan tuntutan keandalannya. Tidak semua penggunaan barang mahal adalah pemborosan. Sebaliknya, tidak semua penggunaan barang murah adalah bentuk keberpihakan kepada umat.
Sederhana saja. Kalau kita hanya mampu makan ketoprak di pinggir jalan, tidak perlu nyinyir kepada orang yang dapat makan di restoran bintang lima. Ketoprak tetap makanan yang baik. Restoran juga tidak otomatis lebih mulia. Namun, kemampuan dan pilihan orang berbeda-beda. Begitu pula dengan mobil Ferrari. Jangan buru-buru nyinyir kepada orang yang memilikinya. Kita tidak tahu, bisa jadi orang tersebut juga memiliki ribuan anak asuh, membangun puluhan masjid, mendirikan pesantren, dan menyalurkan hartanya jauh lebih banyak daripada orang yang setiap hari sibuk mengomentari kekayaannya.
Profesionalisme bukan diukur dari seberapa murah barang yang kita pasang. Profesionalisme juga bukan diukur dari seberapa banyak istilah teknis yang dapat kita ucapkan. Profesionalisme diukur dari kemampuan merancang sistem yang sesuai kebutuhan, menjelaskan pilihan secara jujur, bekerja secara terukur, menjaga dana umat, memberikan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan, dan tetap hadir ketika masalah muncul.
Masjid bukan laboratorium pribadi instalatur. Masjid adalah ruang ibadah milik umat. Setiap eksperimen, perangkat, setting, dan keputusan teknis harus diarahkan untuk satu tujuan utama: suara yang jelas, merata, nyaman, aman, dan dapat digunakan dalam jangka panjang.
Salam,
Kang Eep


