Dalam instalasi sound system masjid, sebaiknya berlaku prinsip sederhana: satu fungsi, satu mikrofon.
Mic azan untuk azan.
Mic imam untuk imam.
Mic khatib untuk khatib.
Mic pengumuman untuk pengumuman.
Mengapa perlu dipisahkan? Karena setiap mikrofon bekerja pada kondisi elektroakustik yang berbeda.
Mic imam berada di mihrab. Mic khatib berada di mimbar. Mic muazin bisa berada di titik lain. Masing-masing mempunyai jarak berbeda terhadap loudspeaker, sudut berbeda terhadap sumber bunyi, karakter pantulan ruang berbeda, dan pola penggunaan yang berbeda pula.
Perbedaan posisi dan fungsi ini membuat setting setiap mikrofon tidak bisa disamaratakan.
- Gain
Jarak mulut ke mikrofon menentukan seberapa besar sinyal yang masuk ke mixer. Mikrofon yang digunakan sangat dekat dengan mulut tentu membutuhkan gain berbeda dibanding mikrofon yang digunakan dari jarak lebih jauh. - Equalizer dan filter
Setiap titik mikrofon dapat berinteraksi berbeda dengan ruang. Mic imam di mihrab, misalnya, bisa mengalami penguatan frekuensi tertentu akibat pantulan di sekitarnya. Mic mimbar belum tentu memiliki masalah yang sama. - Risiko feedback
Feedback sangat dipengaruhi oleh hubungan posisi antara mikrofon dan loudspeaker. Jarak, arah, serta polar pattern mikrofon ikut menentukan batas gain before feedback. Karena itu, setting aman untuk mic imam belum tentu sama dengan mic khatib. - Routing
Mic azan mungkin perlu dikirim ke loudspeaker indoor sekaligus outdoor. Sementara mic imam cukup ke sistem dalam masjid. Dengan channel terpisah, routing dapat dibuat permanen dan operator tidak perlu mengubah-ubah konfigurasi setiap kali fungsi berganti.
Karena itu, ketika seorang sound engineer melakukan tuning, sebenarnya yang disetting bukan hanya mikrofonnya, tetapi keseluruhan kondisinya: posisi, jarak, arah, hubungan dengan loudspeaker, gain, EQ, filter, processing, hingga routing.
Jika satu mikrofon terus dipindah-pindahkan untuk berbagai fungsi, maka kondisi yang sudah dituning ikut berubah.
Prinsip satu fungsi, satu mikrofon membuat sistem lebih stabil, lebih mudah dioperasikan, dan hasil setting lebih konsisten.
Bukan karena ingin memperbanyak mikrofon.
Tetapi karena setiap titik mikrofon adalah kondisi elektroakustik yang berbeda, sehingga membutuhkan setting yang berbeda pula.


