Salah satu kendala terberat yang dihadapi konsultan akustik dan sound system masjid justru sering datang dari arsitek dan desainer interior. Pada umumnya, arsitek dan desainer interior masjid masih kurang welcome terhadap urusan akustik dan tata suara.
Pertama, mereka sering meremehkan pengaruh bentuk interior dan bahan finishing terhadap kualitas suara. Demi mempercantik interior masjid, mereka dengan leluasa memilih bahan-bahan finishing yang justru dapat memperburuk kondisi akustik ruangan. Dalam beberapa kali rapat bersama tim arsitek, saya mendapati anggapan bahwa persoalan kualitas suara dapat diselesaikan belakangan oleh tim akustik dan sound system.
Padahal, ruangan yang bergaung tidak mungkin diselesaikan hanya dengan sound system. Ketika kami membahas pentingnya panel dan material akustik, mereka terkadang seperti alergi karena menganggap material tersebut akan mengurangi keindahan interior masjid. Setahu saya, dalam pendidikan arsitektur terdapat mata kuliah mengenai akustik bangunan atau akustik ruangan. Kalau sampai persoalan gaung dan gema tidak dipahami, barangkali “mainnya kurang jauh”.
Kedua, arsitek dan desainer interior sering kurang terbuka terhadap kebutuhan penempatan loudspeaker. Banyak yang berpikir bahwa loudspeaker dapat ditempatkan di mana saja, yang penting berbunyi. Padahal, penempatan loudspeaker tidak boleh sembarangan. Titik pemasangan, arah, ketinggian, dan sudutnya akan memengaruhi kualitas serta pemerataan energi suara.
Khusus untuk masjid, arah datangnya suara sebaiknya berasal dari arah kiblat agar persepsi pendengaran jemaah tetap mengarah ke depan. Namun, pemasangan loudspeaker dengan cara digantung sering ditolak oleh arsitek dan desainer interior. Anehnya, kalau lampu gantung, mereka tidak keberatan.
Mereka juga sering menolak ketika loudspeaker perlu dipasang pada tiang atau disatukan dengan railing pengaman balkon lantai atas, dengan alasan mengganggu keindahan. Akhirnya, loudspeaker diminta dipasang di dinding sisi kiri dan kanan. Akibatnya, pada masjid yang lebar, suara terasa datang dari sisi kiri dan kanan telinga, bukan dari arah kiblat. Bahkan, apabila ruangannya sangat lebar, dapat muncul area blank spot yang kurang terjangkau oleh loudspeaker.
Pengeras suara di masjid berbeda dengan kebutuhan live show atau konser. Sistemnya tidak dapat disetel sekeras-kerasnya hanya untuk mengejar jangkauan. Ada tingkat kekerasan suara yang harus diukur dengan SPL meter agar tetap aman dan nyaman bagi telinga jemaah.
Dengan teknologi terkini, sudah banyak loudspeaker berukuran relatif kecil, tetapi mampu menghasilkan suara yang cukup kuat dan tidak mengganggu pandangan. Apalagi masjid lebih berfokus pada frekuensi percakapan, sehingga tidak selalu membutuhkan loudspeaker berukuran besar.
Masjid Al Jabbar merupakan salah satu contoh kerja sama yang baik antara keindahan arsitektural dan tata suara. Loudspeaker ditempatkan di dalam sebuah bentuk ornamen yang sekaligus berfungsi sebagai saluran blower pendingin udara. Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa tanpa ornamen tersebut, ruang masjid akan terlihat lebih luas dan tanpa halangan. Namun, begitulah ketika kompromi harus dikedepankan antara penampilan dan kebutuhan tata suara.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memojokkan kawan-kawan yang berprofesi sebagai arsitek dan desainer interior. Tulisan ini lebih menggambarkan kenyataan yang sering terjadi di lapangan. Banyak persoalan akustik dan tata suara yang seharusnya dirancang bersama sejak awal, bukan setelah bangunan selesai, terdengar buruk, lalu berharap tim akustik dan sound system dapat menyelesaikan semuanya.
Cacat fisik dan akustik bangunan tidak dapat diselesaikan hanya dengan sound system.
Masjid adalah bangunan yang sekitar 80 persen kegiatannya berkaitan dengan mendengarkan suara. Karena itu, perancangannya tidak boleh hanya mengejar keindahan visual. Saya mengajak semua pihak untuk bekerja sama menghadirkan masjid yang indah dipandang sekaligus nyaman dan berkualitas ketika didengar.
Salam,
Kang Eep
0813-3010-3010
Konsultan Akustik & Sound Masjid
Berpengalaman 34 Tahun di Bidang Audio dan Video


