Masjid memang menggunakan sound system. Tetapi menyamakannya dengan sistem audio aula, ballroom, music lounge, atau café adalah kekeliruan.
Di ruang hiburan, yang dicari adalah energi, ambience, dan dampak. Di masjid, yang dicari adalah kejelasan kalam.
Masjid berorientasi pada adzan, tilawah, khutbah, dan doa. Kesalahan artikulasi bisa mengubah makna. Karena itu, ukuran keberhasilan bukan seberapa keras suara terdengar, tetapi seberapa jelas kalimat dipahami.
Masjid tidak membutuhkan suara keras. Yang dibutuhkan adalah level cukup, sekitar 10–15 dB di atas kebisingan latar. Lebih dari itu sering justru memperbanyak pantulan dan membuat jamaah lelah. Masjid bukan tempat mengalahkan kebisingan dengan tekanan suara, melainkan menjaga keterbacaan kata.
Secara arsitektural, masjid umumnya reflektif: kubah tinggi, lantai keras, volume besar. Tanpa kontrol arah yang tepat, suara mudah memantul dan mengaburkan konsonan. Karena itu, penempatan loudspeaker tidak bisa sembarangan.
Speaker tidak boleh terlalu tinggi karena arah suara menjauh dari imam dan memperkuat pantulan kubah. Tidak boleh terlalu rendah karena distribusi ke saf belakang terganggu. Tidak boleh di pojok ruangan karena sudut menghasilkan pantulan agresif untuk low frekuensi. Penempatan harus mengikuti geometri saf dan menjaga agar pendengaran jamaah tetap “menghadap” kiblat.
Masjid juga digunakan berulang setiap hari. Sistemnya harus stabil, tidak melelahkan, dan tidak menekan telinga. Sound system masjid bukan untuk pertunjukan sesaat, tetapi untuk keberlanjutan ibadah.
Pada akhirnya, sound system di masjid bukan sistem hiburan.
Ia adalah sistem transmisi makna.
Karena itu, masjid membutuhkan pendekatan teknis dan akustik yang khusus. Bukan lebih keras, tetapi lebih tepat.
Salam, Kang Eep
Konsultan Akustik & Sound Masjid
0813-3010-3010


