Dahulu saya pernah diminta oleh pimpinan sebuah ponpes agar suara di masjidnya itu sama persis dengan suara asli imam masjidnya. Tentu saja saya jelaskan bahwa hal itu belum tentu bisa dilaksanakan. Banyak orang mengira sound system bisa menyalin suara asli manusia lalu mengeluarkannya kembali dengan hasil yang identik. Padahal tata suara bukan sulap. Ia bekerja di wilayah ilmu, alat, ruang, dan kompromi. Keinginan agar suara imam terdengar persis seperti aslinya sering kali lahir dari harapan yang wajar, tetapi secara teknis tidak selalu realistis.

Dalam urusan sound masjid, selera manusia juga berbeda-beda, persis seperti selera masakan. Ada yang suka suara tebal, ada yang suka tipis. Ada yang merasa suara tajam itu jelas, ada yang justru menganggapnya menusuk telinga. Maka kita tidak mungkin mengikuti selera semua orang. Kalau sound masjid disetel berdasarkan selera perorangan, maka tidak akan pernah selesai. Hari ini dibilang bagus oleh satu jamaah, besok dibilang jelek oleh jamaah yang lain. Karena itu sound masjid tidak boleh dibangun di atas selera, tetapi di atas fungsi.

Fungsi utama sound masjid bukan memanjakan telinga, tetapi membantu jamaah mendengar dengan cukup, menangkap arah suara dengan benar, dan memahami ucapan dengan jelas. Yang harus dikejar bukan sekadar suara yang dianggap “merdu”, tetapi suara yang paling berguna untuk ibadah berjamaah. Dalam masjid, yang lebih penting adalah kejelasan dan keterpahaman, bukan sensasi audio yang memuaskan sebagian kecil orang. Sound masjid harus melayani kepentingan jamaah secara umum, bukan memuaskan ego pendengaran orang per orang.

Selain itu, hasil suara di masjid sangat dipengaruhi oleh dua hal besar: perangkat sound system dan lingkungan akustik ruang. Mikrofon, mixer, amplifier, dan loudspeaker memang penting, tetapi ruangan ikut menentukan hasil akhirnya. Masjid yang terlalu banyak pantulan, terlalu bergema, atau bentuk ruangnya kurang bersahabat akan membuat suara jadi kabur walaupun perangkatnya bagus. Karena itu jangan heran kalau suara imam terdengar baik di satu masjid, tetapi terasa berbeda di masjid lain. Bukan semata-mata karena orangnya atau alatnya, tetapi juga karena ruang ikut “mewarnai” suara.

Coba ambil contoh yang lebih sederhana. Seorang penyanyi dengan kualitas vokal sekelas Opick saat menyanyikan Tombo Ati pun hasilnya akan berbeda jika ia bernyanyi di lapangan terbuka, di aula besar, atau di ruang sempit yang aneh pantulannya. Secara ekstrem, bernyanyi di dalam gentong tentu akan menghasilkan karakter suara yang berbeda lagi. Artinya, sumber suara yang sama tidak otomatis menghasilkan bunyi yang sama ketika ruangnya berbeda. Karena itulah studio rekaman dibuat khusus, agar karakter asli suara bisa ditangkap seidentik mungkin. Sementara masjid jelas tidak bisa, dan memang tidak perlu, diubah menjadi studio rekaman.

Jadi, yang paling realistis dalam menata sound masjid bukan mengejar suara “sama persis dengan aslinya”, melainkan mengejar suara yang paling tepat guna: cukup alami, cukup jelas, cukup nyaman, dan bisa dipahami oleh sebanyak mungkin jamaah. Di sinilah kita harus jujur bahwa sound system hanya alat bantu, bukan alat sihir. Kalau akustik ruang buruk, kalau penempatan loudspeaker salah, atau kalau ekspektasi orang sudah keliru sejak awal, maka setting sehebat apa pun akan tetap dibatasi oleh hukum fisika. Sound masjid bukan soal memuaskan semua selera, tetapi soal menata alat dan ruang agar fungsi ibadah bisa dilayani dengan sebaik-baiknya.

Salam, Kang Eep
Konsultan Akustik & Sound Masjid