Beberapa kali saya diminta datang ke masjid-masjid untuk membantu menyelesaikan persoalan tata suara yang buruk. Dari pengalaman tersebut, saya melihat ada satu hal yang sering tidak beres dalam proses pembangunan masjid, atau lebih tepatnya sering disepelekan, yaitu persoalan akustik ruangan.

Tata suara masjid terdiri atas dua aspek utama, yaitu akustik sebagai unsur fisik ruangan dan sistem pengeras suara sebagai unsur elektronik. Banyak masjid hanya mengandalkan pemasangan perangkat pengeras suara, tetapi menyepelekan penataan akustik ruangannya. Padahal, kondisi akustik yang buruk tidak akan banyak terbantu meskipun dipasangi sistem pengeras suara dengan harga sangat mahal.

Untuk mengejar kesan mewah dan megah, banyak masjid menggunakan bahan-bahan interior yang justru memperburuk kondisi akustik. Permukaan keras seperti marmer, granit, kaca, dan gipsum dapat menimbulkan pantulan suara berlebihan, sehingga ruangan dipenuhi gaung berkepanjangan dan gema yang berulang-ulang. Alih-alih dapat menangkap makna kajian dengan baik, jemaah justru harus bekerja keras untuk memahami suara yang terdengar tidak jelas.

Semestinya, sejak awal proses perencanaan bangunan, arsitektur, dan interior masjid sudah melibatkan ahli akustik. Masjid tentu boleh dirancang agar terlihat mewah, indah, dan artistik, tetapi jangan sampai melupakan fungsi utamanya. Masjid bukan sekadar tempat wisata visual, melainkan tempat beribadah yang membutuhkan tata suara yang jelas dan nyaman. Ornamen keindahan interior tetap dapat dikolaborasikan dengan elemen-elemen akustik. Jangan hanya mengejar bentuk kubah yang indah, tetapi mengabaikan pengaruhnya terhadap pantulan suara di dalam ruangan.

Persoalan lainnya adalah banyak panitia pembangunan atau renovasi masjid menerima sedekah dan donasi dalam bentuk barang. Misalnya, donatur tiba-tiba mengirimkan granit atau marmer untuk dinding, gipsum untuk langit-langit, mixer 32 channel, amplifier, dan berbagai perlengkapan lainnya yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan masjid. Donasi seperti semen, bata, atau material struktur mungkin lebih mudah dimanfaatkan. Namun, apabila sudah menyangkut interior, akustik, dan tata suara, sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan ahlinya.

Mungkin ada baiknya panitia pembangunan masjid membuat daftar bahan dan perangkat yang dapat diterima dalam bentuk barang. Untuk kebutuhan yang memerlukan perencanaan khusus, bantuan dalam bentuk dana akan lebih mudah dikelola agar dapat dibelanjakan sesuai desain dan kebutuhan yang telah diperhitungkan.

Semoga ke depan semakin banyak pengurus dan panitia pembangunan masjid yang menyadari bahwa tata suara bukan sekadar memasang pengeras suara. Akustik ruangan dan sistem elektronik harus dirancang sebagai satu kesatuan agar suara di dalam masjid terdengar jelas, nyaman, dan mudah dipahami oleh seluruh jemaah.

Salam,
Kang Eep