Suatu ketika saya diminta menata sound system di aula sebuah pesantren. Alhamdulilah berjalan dengan baik. Di pesantren tersebut juga ada masjid, waktu itu ditangani oleh pihak lain. Saya bertanya kepada tim pesantren kenapa itu gak sekalian saja saya tangani. Jawabnya: masjid sudah ada tim lain yang bertugas. “Oh oke, paham. Tapi itu mengapa pemasangan loudspeaker-nya salah kalau untuk masjid. Seharusnya semua speaker arah suaranya dari kiblat ke jamaah.” (Gambar-A. Beliau menjawab, “Katanya yang menangani sudah ahli.” Saya coba lanjutkan, “Suatu saat nanti bakal terasa kalau sound system dengan cara tersebut akan bermasalah.”


Beberapa tahun berlalu, saya menerima panggilan dari tim pesantren tersebut, katanya ditugaskan oleh pimpinan ponpes untuk membereskan sound system masjid. Saya jadi teringat ucapan saya waktu itu yang saya tuliskan di atas. Saat ketemu dengan pimpinan keluhannya sudah dapat saya prediksi, yaitu di areal tengah masjid, suara tidak karuan, tidak jelas, pelan, dll. Pimpinan pesantren setuju untuk merombak titik peletakan loudspeaker dan menyetujui juga untuk upgrade tata suara menggunakan teknologi digital.

Setelah posisi penempatan speaker dipindahkan (Gambar-B), alhamdulillah didapatkanlah tata suara yang jauh lebih jelas, lebih merata dari shaf pertama sampai paling belakang. Salah satu fungsi tata suara masjid adalah “MENGHADAPKAN PENDENGARAN” ke kiblat. Gambar-B menunjukkan semua pengeras suara menghadap ke jamaah.

Posisi speaker di Gambar-B memberikan keuntungan:
1. Distribusi energi suara jadi lebih merata
2. Suara datang dari arah kiblat, tidak mengganggu kekhusyuan jamaah akibat mendengar suara imam dari belakang telinganya.

Salam, Kang Eep – Alumni Fisika ITB 91
Konsultan Akustik & Sound Masjid