Pada banyak pembangunan dan renovasi masjid, aspek visual sering mendapat prioritas paling tinggi. Arsitektur harus indah, interior bersih, ornamen rapi, garis pandang tidak terganggu. Loudspeaker diminta tidak terlihat, kabel tidak boleh tampak, dan posisi speaker kerap ditentukan oleh pertimbangan visual, bukan oleh kebutuhan distribusi suara.

Masjid memang ruang ibadah, ruang sosial, sekaligus ruang simbolik. Masalah muncul ketika estetika visual dijadikan satu-satunya ukuran, sementara estetika audial dianggap urusan belakangan. Padahal pengalaman manusia terhadap ruang tidak hanya dibentuk oleh mata, tetapi juga oleh suara, gema, kebisingan, kejelasan ucapan, dan kenyamanan mendengar. Pembahasan ini bersentuhan dengan environmental psychology, empirical aesthetics, psychoacoustics, dan architectural acoustics.

Riset visual memberi dasar kuat. Dalam empirical aesthetics, tampilan visual terbukti memengaruhi perhatian, rasa suka, dan penilaian manusia. Riset tentang daya tarik wajah, misalnya wajah ganteng dan cantik, menunjukkan perhatian visual dapat memengaruhi persepsi terhadap daya tarik. Studi Dalton dan kawan-kawan tahun 2025 tentang building appearance and wellbeing menunjukkan bahwa 75,6% responden menyatakan tampilan bangunan berdampak setidaknya sebagian terhadap kesehatan mental mereka. Komentar “estetika psikologis” dari sisi visual tidak bisa diabaikan.

Tetapi pembacaan tersebut belum lengkap. Gangguan visual masih bisa dihindari dengan memalingkan mata. Gangguan suara tidak semudah itu. Jamaah tidak bisa memalingkan pendengaran dari sound system yang buruk. Ke mana pun wajah menghadap, suara tetap masuk ke telinga.

Ilmu psychoacoustics melihat suara bukan hanya perkara keras atau pelan. Suara berhubungan dengan persepsi, kenyamanan, kelelahan mendengar, konsentrasi, emosi, dan kemampuan otak memahami pesan. WHO dan European Environment Agency mencatat paparan bising dapat memicu gangguan fisik, mental, annoyance, stres, gangguan tidur, dan penurunan kemampuan kognitif. Prinsipnya relevan: suara yang buruk bukan sekadar gangguan telinga. Ia dapat menjadi gangguan psikologis.

Pada ruang ibadah, dampaknya terasa langsung. Suara terlalu keras membuat jamaah tegang, suara cempreng membuat telinga cepat lelah, suara mendengung membuat artikulasi kabur, dan distribusi suara tidak merata membuat sebagian jamaah merasa terlalu keras sementara sebagian lain tidak jelas mendengar. Ceramah yang materinya baik pun bisa terasa melelahkan, bahkan menjengkelkan.

Akustik ruang mengenal istilah speech intelligibility, yaitu tingkat keterpahaman ucapan. Ukurannya bukan sekadar “ada suara” atau “suara keras”, tetapi seberapa jelas kata-kata dipahami pendengar. Parameter yang sering digunakan adalah STI atau Speech Transmission Index, yang menunjukkan mutu transmisi ucapan dari sumber suara sampai ke pendengar.

Temuan Laboratorium Fisika Bangunan dan Akustik, Teknik Fisika ITB, dalam Panduan Pelatihan Akustik Masjid, memperkuat hal ini. Pada bagian “Aspek Kualitas Suara di Masjid”, kejelasan suara menempati perhatian tertinggi, yaitu 40,7%, jauh di atas level suara 18,6%, karakter suara 17,7%, gema 15,9%, kebisingan 6,2%, dan kemerataan suara 0,9%. Jamaah pertama-tama menuntut tata suara masjid yang jelas, bukan sekadar keras atau merdu.

Tata suara masjid bukan sekadar urusan selera. Ini wilayah teknis yang bisa diukur: SPL untuk kekerasan suara, SNR untuk perbandingan suara utama dan kebisingan latar, RT60 untuk lama dengung ruang, STI atau STIPA untuk kejelasan ucapan, coverage untuk sebaran energi suara, directivity dan dispersion loudspeaker untuk arah sebaran, delay dan time alignment untuk mencegah suara bertumpuk, serta gain before feedback untuk menghindari denging dan feedback.

Posisi loudspeaker tidak bisa ditentukan hanya dengan kalimat “jangan kelihatan”, “jangan di situ”, atau “sembunyikan saja di atas”. Penempatannya harus mempertimbangkan arah tembakan suara, tinggi pemasangan, jarak ke jamaah, sudut sebaran, pantulan ruang, posisi imam, posisi khatib, mezanin, serta kebutuhan delay speaker bila ruangan cukup panjang.

Praktik di lapangan sering menunjukkan masalah yang sama. Sebagian arsitek, pengurus masjid, atau pihak perencana lebih banyak mempertimbangkan aspek visual daripada aspek audial. Speaker tidak boleh di sini, tidak boleh di sana, harus tersembunyi, harus mengikuti interior, harus tidak tampak dari bawah. Tetapi ketika hasil suara tidak jelas, tidak merata, feedback, atau melelahkan didengar, yang sering disalahkan justru desainer sound system.

Padahal masalah suara sering bukan semata-mata karena alat atau setting. Sejak awal posisi loudspeaker sudah dibatasi keputusan visual yang terlalu kaku. Speaker dipaksa berada di tempat yang indah dipandang, tetapi tidak efektif menyebarkan energi suara. Sebagian area menerima suara langsung, sebagian lain lebih banyak menerima pantulan. Sebagian jamaah mendengar terlalu keras, sebagian lain mendengar suara kabur.

Desainer sound system masjid tetap harus punya kepekaan visual. Loudspeaker harus dipilih yang pantas, proporsional, warnanya menyatu dengan interior, dan kabelnya rapi. Bila memungkinkan, pilih loudspeaker ramping, directivity terkontrol, dan coverage sesuai kebutuhan ruang. Kompromi harus dua arah. Jangan sampai visual diperlakukan sebagai ilmu, sementara audio diperlakukan sebagai urusan tukang.

Estetika masjid tidak boleh hanya dibaca dari mata. Telinga juga punya psikologinya sendiri. Mata membutuhkan keindahan bentuk. Telinga membutuhkan kejernihan suara, artikulasi yang jelas, level yang nyaman, coverage yang merata, RT60 yang terkendali, SNR yang cukup, dan STI yang baik. Titik temunya adalah keseimbangan: indah dilihat, nyaman didengar.

Fungsi utama masjid sebagai ruang menyimak jangan dikorbankan demi estetika visual semata. Jamaah mengikuti imam dengan mendengar, memahami khutbah dengan mendengar, dan menyimak kajian dengan mendengar. Dalam masjid, suara bukan aksesori. Suara adalah bagian dari fungsi ibadah.

Kalau hendak bicara “estetika psikologis”, bicarakan secara lengkap. Jangan hanya estetika mata, tetapi juga estetika telinga.

Jamaah bisa memalingkan pandangan dari visual yang jelek, tetapi tidak bisa memalingkan pendengaran dari suara yang buruk.

Salam, Kang Eep – Alumni Fisika ITB
Konsultan Akustik & Sound Masjid
Berpengalaman 35 tahun di bidang audio visual
0813-3010-3010