Latar belakang saya sebagai jurnalis audio-video pernah membawa saya masuk ke lingkungan para penggemar high-end audio. Dunia ini bagi saya awalnya terasa antik dan unik. Komponen audionya kadang aneh-aneh: kabel berbahan emas, kabel yang dililit atau dikepang, kayu-kayu penahan kabel, sampai alat kecil seperti kancing yang ditempel di titik tertentu dan dipercaya dapat memperbaiki kualitas suara.

Salah satu ciri menarik dari kalangan high-end audio adalah sikap mereka yang sangat menghindari penggunaan tone control bass-treble, apalagi equalizer multiband. Mereka ingin mendapatkan suara yang semurni mungkin dari sebuah rekaman, tanpa banyak perubahan akibat rangkaian elektronika tambahan, pergeseran fasa dari filter equalizer, atau perubahan respons frekuensi karena sistem yang terlalu rumit.

Maka, hal pertama yang biasanya mereka kejar bukan mengutak-atik equalizer, melainkan menata ruang dengar. Ruangan harus dibuat memiliki respons frekuensi yang relatif rata. Dalam pengertian sederhana, ruangan yang baik tidak boleh membuat bass terlalu dominan, mid terlalu menonjol, treble terlalu tajam, atau sebaliknya melemahkan frekuensi tertentu secara berlebihan. Untuk mencapai kondisi itu, berbagai cara dilakukan: memasang penyerap suara, diffuser, reflektor, bass trap, dan berbagai perlakuan akustik lainnya.

Pengalaman berbeda saya temukan saat bergaul dengan dunia audio profesional. Di wilayah audio pro, penggunaan equalizer justru menjadi semacam kewajiban. Equalizer dipakai untuk mengoreksi sound system terhadap kondisi lingkungan tempat sistem dipasang. Mengapa demikian? Karena tempat pertunjukan, baik ruang tertutup maupun area terbuka, belum tentu memiliki respons frekuensi yang baik. Equalizer diperlukan untuk melakukan koreksi atau kompensasi agar suara yang dihasilkan bisa mendekati flat. Sesuai kata asalnya: to equalize, membuat lebih seimbang.

Masjid dan auditorium semestinya mengambil pelajaran dari dunia high-end audio dan studio rekaman, tetapi dengan keunikan tersendiri. Ruangan perlu dirancang dengan kesadaran akustik sejak awal. Bedanya, terutama pada masjid, pengurangan gaung tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Masjid tetap membutuhkan rasa agung, khusyuk, lapang, dan megah. Kesan itu tidak akan muncul dari ruangan yang terlalu mati, kering, dan kehilangan pantulan suara sama sekali.

Namun, pantulan suara juga tidak boleh dibiarkan berlebihan. Bila gaung terlalu panjang, suara imam, khatib, atau penceramah akan menjadi kabur. Kejelasan ucapan atau speech intelligibility menurun. Jamaah mungkin mendengar suara keras, tetapi tidak menangkap kata-katanya dengan jelas. Untuk kebutuhan masjid, yang dicari bukan sekadar suara besar, melainkan suara yang jelas, cukup, merata, nyaman, dan tetap memiliki karakter ruang yang khusyuk.

Respons frekuensi ruangan juga sebaiknya dijaga agar cenderung flat. Artinya, energi suara di berbagai frekuensi relatif seimbang. Tidak ada frekuensi yang terlalu menonjol dan tidak ada bagian penting dari suara manusia yang hilang. Bila ruangan sudah baik, sound system tidak perlu bekerja terlalu keras untuk mengoreksi kesalahan akustik. Equalizer tetap dapat digunakan, tetapi fungsinya menjadi penyempurna, bukan alat untuk menambal masalah besar yang seharusnya diselesaikan sejak desain ruangan.

Semoga ke depan semakin banyak arsitek, desainer masjid, kontraktor, pengurus, dan DKM yang memahami bahwa masjid bukan hanya bangunan visual, melainkan juga ruang dengar. Fungsi utama masjid berkaitan erat dengan suara: azan, imam, khotbah, kajian, tilawah, pengumuman, bahkan kegiatan modern seperti talkshow dan live streaming.

Pembangunan masjid harus mulai menyelaraskan diri dengan kaidah fisika dan arsitektur akustik. Jangan sampai yang terjadi justru sebaliknya: akustik dan sound system dipaksa menyesuaikan diri dengan ruangan yang sejak awal salah dirancang.

Gambar ini adalah waterfall graphic yang menggambarkan kondisi respons frekuensi dan waktu peluruhan suara. Sumbu X menunjukkan seberapa rata kekerasan suara pada tiap frekuensi. Sumbu Y menunjukkan tingkat kekerasan suara atau SPL dalam satuan dB. Sumbu Z menunjukkan seberapa cepat suara meluruh. Semakin lama suara meluruh, semakin panjang dengungnya.

Salam,
Kang Eep
Bangun Swara Akustika
Tukang Sound Masjid