Banyak orang bertanya kepada saya: jika Masjidil Haram didominasi marmer, batu, dan permukaan keras lainnya, mengapa suara imam dan muazin masih dapat terdengar jelas?

Pertanyaan itu masuk akal. Dalam akustik ruang, marmer termasuk material dengan kemampuan absorpsi suara yang rendah. Energi suara yang mengenainya lebih banyak dipantulkan daripada diserap. Jika tidak dikendalikan, pantulan yang datang terlambat dapat menurunkan speech intelligibility, bahkan membentuk echo.

Menariknya, penelitian Wasim Orfali tentang akustik Masjidil Haram juga menemukan persoalan tersebut. Pengukuran menunjukkan adanya late energy arrival setelah 100 milidetik yang berpotensi mengganggu kejelasan ujaran. Jadi, hukum fisikanya tetap berlaku: marmer di Masjidil Haram tetap memantulkan suara.

Jawabannya justru terletak pada bagaimana energi suara itu dikelola.

Pada musim Haji 2025, rekan saya Asawendo Swissrianto berkesempatan melihat lebih dekat sistem sound Masjidil Haram bersama engineer yang menangani sistem tersebut. Salah satu hal yang menarik adalah bahwa sistemnya tidak mengandalkan beberapa loudspeaker besar yang ditembakkan dari jarak jauh, tetapi menggunakan prinsip distributed loudspeaker system.

Data Saudi Press Agency pada Mei 2025 menyebut sekitar 8.000 loudspeaker digunakan untuk melayani kawasan sekitar 650.000 meter persegi, meliputi tiga area perluasan, pelataran, hingga jalan di sekeliling Masjidil Haram. Sistem tersebut bahkan dibagi menjadi 21 sistem independen, sehingga bagian-bagian tertentu dapat dikendalikan secara terpisah.

Dengan jumlah loudspeaker yang banyak dan tersebar, jarak antara loudspeaker dengan jamaah dapat dibuat relatif lebih dekat. Loudspeaker tidak perlu bekerja dengan SPL sangat tinggi untuk menjangkau pendengar yang sangat jauh.

Secara elektroakustik, pendekatan ini membantu meningkatkan Direct-to-Reverberant Ratio atau D/R Ratio.

Jamaah menerima energi suara langsung dari loudspeaker lebih dominan dibandingkan energi suara yang terlebih dahulu memantul berkali-kali dari lantai, dinding, kolom, dan bidang keras lainnya. Selain itu, karena sumber suara tersebar, distribusi SPL menjadi lebih merata. Jamaah yang berada di dekat maupun lebih jauh dari suatu titik tidak mengalami perbedaan level sebesar sistem yang hanya mengandalkan beberapa speaker utama.

Tetapi sistem Masjidil Haram juga tidak sesederhana “pasang speaker sebanyak-banyaknya”.

Kompleks ini terdiri atas area thawaf, ruang berpilar, koridor, beberapa lantai, area ekspansi, pelataran terbuka, hingga jalan di sekitarnya. Masing-masing mempunyai geometri dan kebutuhan akustik berbeda.

Karena itu, tidak seluruh Masjidil Haram menggunakan satu tipe loudspeaker atau satu teknologi yang sama.

Di area tertentu digunakan sistem loudspeaker dengan directivity lebih terkontrol. Teknologi seperti digitally steerable column loudspeaker atau beam steering digunakan pada bagian yang memang membutuhkan pengendalian arah pancaran secara lebih presisi.

Tujuannya bukan sekadar membuat suara lebih keras, tetapi mengatur ke mana energi suara harus diarahkan.

Energi sebanyak mungkin diarahkan menuju area jamaah, sementara energi yang menuju bidang-bidang reflektif yang tidak perlu ditekan. Studi akustik pada area tertentu Masjidil Haram menunjukkan penggunaan loudspeaker column dapat mengurangi late energy arrival sekaligus menghasilkan distribusi SPL yang lebih homogen.

.

Jadi tidak tepat jika disederhanakan bahwa “Masjidil Haram menggunakan beamforming”. Yang lebih tepat adalah: Masjidil Haram menggunakan sistem elektroakustik yang kompleks dan heterogen; teknologi dipilih sesuai kebutuhan setiap zona.

Arsitekturnya juga ikut membantu. Kolom, ornamen, relief, lengkungan, serta permukaan yang tidak sepenuhnya datar dapat menyebabkan scattering, yaitu menyebarkan energi pantulan ke berbagai arah. Bukan menyerap suara seperti absorber, tetapi mengurangi terjadinya satu pantulan spekular yang sangat kuat.

Pelajaran terpenting dari Masjidil Haram akhirnya bukan soal merek speaker ataupun teknologi paling mahal.

Sound system yang baik adalah persoalan mengendalikan energi.

Berapa jauh suara harus berjalan, ke mana loudspeaker diarahkan, seberapa besar SPL yang diperlukan, bagaimana coverage dibagi, bagaimana delay dan level diatur, serta bagaimana direct sound dibuat lebih dominan dibandingkan reverberant sound.

Masjidil Haram menunjukkan bahwa menghadapi ruang yang sangat reflektif tidak selalu dilakukan dengan sekadar memperkeras suara.

Justru sebaliknya: energi suara ditempatkan hanya ke tempat yang memang membutuhkan suara

Salam, Kang Eep