Reverb atau reverberation adalah fenomena akustik yang terjadi ketika suara memantul dari berbagai permukaan di sekitar sumber suara, seperti dinding, lantai, dan langit-langit. Pantulan-pantulan tersebut menciptakan efek suara yang terdengar seperti ekor suara atau gaung. Sementara itu, pantulan yang terdengar terpisah dan berulang disebut echo.
Ketika kita berbicara atau terdapat sumber bunyi di dalam sebuah ruangan, suara akan memantul pada berbagai permukaan sebelum akhirnya mencapai telinga. Akibatnya, suara terdengar lebih “panjang”. Misalnya, ketika Anda mengucapkan “A”, suara tersebut dapat terdengar memanjang menjadi “Aaaaaa…” hingga perlahan menghilang. Dalam kondisi tertentu, dapat pula terjadi efek pengulangan atau echo. Ketika Anda mengucapkan “A”, akan terdengar seperti “A, a, a, a….” hingga akhirnya tidak terdengar lagi.
Besarnya reverb dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk ruangan, serta karakter bahan pada permukaannya, seperti kayu, beton, kaca, karpet, dan material lainnya. Permukaan yang keras dan tidak berpori cenderung memantulkan suara, sedangkan bahan yang lunak dan berpori lebih banyak menyerap suara.
Apakah reverb buruk bagi tata suara? Jawabannya bergantung pada kebutuhan ruang. Di ruang bioskop atau studio rekaman, reverb biasanya dikendalikan agar relatif kecil. Tujuannya agar suara yang terdengar lebih dominan berasal dari sumber suara atau loudspeaker, sehingga kemurnian dan detail suara tetap terjaga.
Di beberapa jenis ruang lain, reverb justru dibutuhkan dalam batas tertentu dan tidak boleh berlebihan. Misalnya di masjid, katedral, dan ruang sejenis, reverb dapat membuat suara terdengar lebih berdimensi, agung, dan megah. Jika ruangan lebih dominan digunakan untuk musik, waktu dengungnya dapat dibuat lebih panjang. Namun, untuk ruang percakapan, reverb harus tetap dikendalikan agar kejelasan ucapan terjaga. Jangan sampai ucapan “bapak di Garut” salah terdengar menjadi “kelapa diparut”.
Dalam dunia audio, terdapat dua jenis reverb:
- Natural ReverbNatural reverb dihasilkan secara alami oleh kondisi fisik ruangan. Besarnya reverb diatur menggunakan material dan elemen fisik, seperti absorber, reflektor, diffuser, serta pengaturan bentuk, luas, dan kemiringan bidang dinding maupun plafon.Natural reverb hanya dapat dikendalikan melalui penanganan fisik ruangan. Reverb alami tidak dapat dihilangkan atau diatur oleh sound system.
- Artificial ReverbArtificial reverb atau reverb buatan dihasilkan secara elektronik menggunakan perangkat keras maupun perangkat lunak, misalnya prosesor efek, mixer digital, atau aplikasi audio.Reverb buatan dapat dikendalikan oleh pengguna, baik secara manual maupun otomatis melalui perangkat lunak. Besarnya efek, panjang waktu reverb, karakter pantulan, dan parameter lainnya dapat diatur sesuai kebutuhan.
Beberapa perangkat reverb digital bahkan dapat menyimulasikan karakter berbagai jenis ruangan, seperti gedung pertunjukan, katedral, hall, jazz club, studio, dan ruangan lainnya.


