Menata sound system masjid itu tidak bisa ujug-ujug langsung membuat RAB. Apalagi kalau sekaligus harus menata akustik ruangannya.

Untuk sound system, minimal perlu diketahui gambar atau denah masjid, ukuran ruangan, jumlah lantai, serta bentuk lantai duanya. Apakah lantai dua berbentuk lurus, berbentuk U, atau memiliki selasar? Belum lagi harus diketahui kebutuhan mikrofon dan input apa saja. Apakah juga ada kebutuhan untuk live streaming dan kebutuhan-kebutuhan lainnya?

Urusan akustik lebih ruwet lagi. Perhitungannya harus dilakukan sebelum tahap finishing. Harus ditanyakan bahan finishing dinding dan langit-langit yang akan digunakan. Kalau materialnya banyak memantulkan suara, perlu dihitung lagi bahan apa yang harus ditambahkan agar ruangan masjid memenuhi syarat untuk menghasilkan kejelasan suara yang baik.

Pekerjaan ini semuanya bersifat custom, layaknya kita membuat jas kepada tukang jahit. Badan kita harus diukur terlebih dahulu.

Memang di pasaran tersedia jas yang sudah jadi. Namun, kita tetap harus mengetahui ukuran badan agar dapat memilih ukuran jas yang sesuai. Berdasarkan pengalaman saya, jas yang sudah jadi biasanya tetap memiliki kekurangan. Lengannya kepanjangan, bagian perutnya tidak muat, dan sebagainya. Hahaha.

Sound system juga sama. Kalau tidak dirancang berdasarkan kondisi dan kebutuhan masjid, nanti suaranya kurang merata, kurang kencang di bagian belakang, atau muncul berbagai kekurangan lainnya.

Jadi, kalau sudah memahami persoalan ini, sudah waktunya kita saling menghargai profesi dan keahlian masing-masing.

Jangan sampai kita tidak mampu membuat desain grafis, tetapi berkata kepada desainer grafis:

“Kan gampang, itu tinggal geser-geser dan tempel-tempel.”