Awal April 2026, sepulang dari pekerjaan instalasi sound system di Masjid Al-Wahdah, Karanganyar, Solo Raya, saya menyempatkan mampir ke Masjid As-Safar di Rest Area Heritage KM 260B Banjaratma, Brebes. Masjid ini menarik perhatian karena berada di kawasan heritage bekas Pabrik Gula Banjaratma dan memiliki desain arsitektur yang kuat.

Kesan pertama sangat baik. Bangunannya tidak tampil seperti masjid rest area pada umumnya. Ia tidak mengandalkan kubah besar atau menara tinggi. Karakternya dibangun melalui bentuk massa, tekstur bata merah, susunan bidang, dan suasana industrial-heritage yang menyatu dengan kawasan bekas pabrik gula.

Apresiasi terhadap Masjid As-Safar bukan sekadar kesan pribadi. Masjid As-Safar Banjaratma pernah memperoleh penghargaan IAI Jakarta Award 2024 untuk kategori bangunan publik fasilitas peribadatan. Artinya, secara arsitektur, bangunan ini diakui memiliki kualitas desain yang kuat.

Namun justru di situ persoalannya menjadi menarik. Banyak masjid hari ini berhasil memenangkan mata, tetapi belum tentu nyaman bagi telinga. Banyak masjid mendapatkan penghargaan arsitektur, tetapi tata suaranya tidak dirancang dengan keseriusan yang sama. Bangunannya indah, konsepnya kuat, materialnya menarik, tetapi ketika ruang itu dipakai untuk ibadah, suara imam, muazin, khatib, atau penceramah belum tentu jelas, terarah, dan nyaman didengar. Fungsi masjid sebagai ruang ucap pun berpotensi gagal.

Catatan saya terhadap Masjid As-Safar terutama ada pada beberapa hal berikut.

  1. Bising dari area wudhu masuk ke ruang salat.
    Di area wudhu terdapat mesin pengering atau perangkat sejenis yang bunyinya sangat kencang. Saat saya ukur menggunakan aplikasi SPL meter, levelnya bisa mencapai sekitar 90 dB. Aplikasi ponsel tentu bukan alat ukur laboratorium, tetapi angka ini cukup menunjukkan adanya sumber bising yang mengganggu.

Bising itu masuk ke ruang salat dan menaikkan background noise. Untuk ruang ibadah, bising latar idealnya sekitar 55 dBA. Ketika bising latar terlalu tinggi, volume sering dinaikkan, tetapi kejelasan belum tentu membaik.

  1. Signal-to-noise ratio terganggu.
    Ukuran penting bukan hanya kerasnya suara, tetapi SNR atau signal-to-noise ratio. Suara imam, khatib, atau penceramah sebaiknya berada sekitar 10–15 dB di atas bising latar agar ucapan jelas. Bila background noise tinggi akibat mesin pengering, kipas, blower, atau kebocoran suara dari area servis, loudspeaker dipaksa bekerja lebih keras. Sumber bisingnya yang harus dikendalikan.
  2. Sebagian loudspeaker mengarah ke samping.
    Ada beberapa loudspeaker yang jelas mengarah ke kiri dan kanan ruang. Masjid memiliki orientasi ibadah yang jelas: jamaah menghadap kiblat. Maka orientasi suara utama sebaiknya ikut membangun arah dengar yang sama, dari arah imam menuju jamaah.

Arah tembak menyamping dapat membuat suara melebar tanpa pusat. Pada ruang dengan banyak permukaan keras, tembakan seperti ini memperbesar pantulan dari dinding dan bidang reflektif. Akibatnya artikulasi turun.

  1. Loudspeaker dipasang terlalu tinggi.
    Banyak loudspeaker dipasang hampir menempel ke bawah plafon. Dari proporsi ruang, titik loudspeaker tampak berada sekitar 4 meter dari lantai. Padahal telinga jamaah saat duduk di lantai sekitar 0,8–1,1 meter. Saat berdiri, sekitar 1,5–1,7 meter.

Untuk masjid kecil hingga sedang, penempatan loudspeaker utama biasanya lebih aman pada kisaran 2,5–2,75 meter dari lantai, dengan syarat diarahkan ke area telinga jamaah.

  1. Loudspeaker tidak ditundukkan ke arah jamaah.
    Ketinggian speaker menjadi lebih bermasalah karena beberapa unit terlihat dipasang lurus mengikuti tiang. Padahal energi terbaik loudspeaker berada pada sumbu utama tembakannya. Ketika speaker dipasang tinggi lalu tetap tegak, sumbu suara terbaik tidak jatuh ke telinga jamaah, tetapi melintas di bagian atas ruang, dekat plafon.

Jamaah akhirnya lebih banyak menerima suara sebaran dan pantulan. Bila pantulan terlalu dominan, ucapan menjadi kurang tajam. Konsonan melemah. Artikulasi turun.

  1. Volume keras bukan solusi.
    Kondisi seperti ini tidak selesai dengan menaikkan volume. Suara yang lebih keras justru membuat lebih banyak energi memantul ke plafon, dinding, kolom, dan lantai. Target tata suara masjid bukan menggelegar, tetapi jelas, utuh, merata, nyaman, dan aman. SPL kerja umumnya cukup 80–85 dB di area jamaah.

Kasus Masjid As-Safar memberi pelajaran penting. Arsitekturnya berhasil, ruangnya indah, identitas visualnya kuat. Tetapi tata suara tampaknya belum mendapat perhatian setara dengan rancangan arsitekturnya. Tata suara tidak boleh diperlakukan sebagai tempelan akhir proyek. Ia harus masuk sejak tahap perencanaan: pengendalian bising, pemilihan material ruang, posisi loudspeaker, arah tembak, ketinggian, delay, pemerataan SPL, sampai pengukuran akhir.

Masjid bukan hanya ruang untuk dilihat. Masjid adalah ruang untuk menyimak. Di dalamnya, suara bukan pelengkap. Suara adalah bagian dari ibadah.

Salam, Kang Eep
Alumni Fisika ITB 91
Konsultan Akustik & Sound Masjid
Berpengalaman 35 tahun di Bidang Audio & Video