Ada ungkapan, biasakan yang benar bukan membenarkan kebiasaan. Maksud dari ungkapan ini kita harus mulai membiasakan diri untuk melakukan yang benar, daripada membenarkan kebiasaan padahal belum tentu benar apalagi kalau salah.
Audio ibarat makanan, adalah soal selera. Namun selera tersebut tentunya juga ada sebenernya ada batasannya. Ada yang menyukai bass dan trebel yang kencang, dug dug ces ces dug dug ces ces. Ada juga yang menyukai setelan flat, natural, dll. Namanya selera, silakan saja sah-sah saja, kalau itu milik pribadi.
Belum tentu juga setiap orang bisa menikmati atau mau menerima settingan yang baik dan benar, kalau kita misalkan lagi dengan makanan, penikmat kopi sachetan belum tentu bisa menikmati seduhan kopi asli, padahal itu kopi yang baik dan benar.
Settingan masjid dan tempat umum lainnya harus memenuhi standar kebutuhan tempat tersebut. Masjid sebagai ruang pembicaraan umum tidak bisa disetting memenuhi selera seseorang. Pengurus DKM saja sudah berapa orang apalagi jamaah bagaimana caranya memenuhi selera mereka semua? Tidak bisa.
Kami tim Bangun Swara Akustika selalu melakukan setting dengan mengikuti standar tertentu. Baik itu kekerasan suara (SPL dB), respon frekuensi, posisi loudspeaker, waktu dengung, kondisi ruangan, dll. Namun dalam praktiknya tidak semua pengurus masjid dan jamaah mau menerima settingan standar. Pada akhirnya kita tetap lakukan tuning sedikit memenuhi selera mereka namun tidak bisa terlalu jauh. Kalau memaksa, ya kita lakukan settingan tetapi garansi settingan/pemasangan kita jadi void. Kami tidak bisa bolak balik melakukan setting untuk memenuhi selera yang tidak standar tersebut.
Salam, Kang Eep
Konsultan Akustik & Sound Masji


