Seringkali sound engineer masjid harus menentukan posisi dan ketinggian loudspeaker dengan serius. Bukan mengandalkan feeling, tetapi berdasarkan hitungan, pengalaman lapangan, pengukuran, bahkan simulasi software, supaya energi suara merata dan bacaan imam benar-benar bisa dipahami.

Dalam masjid, ini bukan urusan kosmetik. Masjid adalah ruang ucap. Karena itu, penempatan loudspeaker adalah bagian dari fungsi ibadah itu sendiri, bukan sekadar pelengkap dekorasi.

Namun ironi justru sering muncul setelah semua beres. Sistem sudah terpasang dan dituning, lalu beberapa waktu kemudian loudspeaker digeser atau dipindahkan oleh pihak lain.

Pihaknya macam-macam: pemasang televisi, tukang kaligrafi, tim interior, bahkan arsitek. Alasannya juga beragam: “biar simetris”, “biar tidak nutup ornamen”, “biar sesuai konsep”, “biar rapi di kamera”. Kelihatannya hanya geser sedikit, seolah tidak ada dampaknya.

Padahal di audio masjid, pergeseran kecil bisa mengubah hasil besar. Sudut tembakan berubah, pantulan bertambah, cakupan jadi timpang, muncul dengung atau feedback, dan yang paling terasa: artikulasi turun. Yang tadinya jelas jadi berkabut, yang tadinya merata jadi ada titik keras sekali dan titik hilang.

Lalu ketika pengelola masjid komplain, “kok sekarang suaranya kurang bagus”, yang dipanggil lagi tetap sound engineer, seolah sumber masalahnya selalu mixer dan EQ. Di sinilah sound engineer sering kurang dianggap: kerja teknis diperlakukan seperti urusan kabel, padahal yang dipertaruhkan adalah hak jamaah untuk memahami bacaan dan khutbah dengan benar. Jika masjid menghormati perhitungan arsitektur, semestinya masjid juga menghormati perhitungan audio, termasuk aturan sederhana: jangan ubah penempatan speaker tanpa konsultasi teknis.

Salam, Kang Eep
Konsultan Akustik & Sound Masjid